“Pariwisata berbasis geopark bukan sekadar upaya konservasi lingkungan, melainkan instrumen pemerataan ekonomi daerah. Aliran wisatawan mendorong perputaran ekonomi langsung ke pengelola desa wisata, perhotelan, penyedia jasa transportasi lokal, hingga pelaku kuliner seperti perajin Lanthing dan penjual Sate Ambal,” ungkap perwakilan Pemerintah Kabupaten Kebumen dalam evaluasi pembangunan berkelanjutan.
Kawasan selatan Jawa Tengah selama bertahun-tahun kerap diposisikan sekadar sebagai rute lintasan penghubung antara kota-kota besar di Jawa Barat dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Namun, paradigma tersebut kini bergeser drastis seiring transformasi infrastruktur dan pengakuan bentang alam internasional yang mengangkat Kebumen menjadi destinasi mandiri.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Kebumen, arus pergerakan wisatawan Nusantara (wisnus) mencatatkan angka yang signifikan, menembus 2,77 juta kunjungan hingga Agustus 2025. Tren pergerakan ini beriringan erat dengan kinerja transportasi darat berbasis rel. Data operasional PT KAI Daop 5 Purwokerto menunjukkan volume penumpang kereta api antarkota tumbuh lebih dari 14 persen secara tahunan (year-on-year), menandai moda kereta api sebagai penggerak utama mobilitas wisatawan menuju kawasan ini.
Efisiensi Mobilitas: Stasiun sebagai Simpul Perjalanan
Konektivitas rel ganda lintas selatan Jawa kini memangkas kendala kemacetan jalan raya dan memberikan kepastian jadwal kedatangan bagi pelancong kota besar yang mencari perjalanan ringkas (short getaway). Ketepatan waktu dan kenyamanan reservasi digital menjadikan stasiun kereta api bukan sekadar tempat singgah, melainkan titik awal logistik perjalanan yang sangat efisien.
Kemudahan ini kian optimal ketika pelancong memilih titik penginapan yang terintegrasi di sekitar simpul transportasi. Sebagai contoh, keberadaan akomodasi di dekat Stasiun Kebumen—seperti Mexolie Hotel yang berada persis di sisi timur stasiun—memungkinkan wisatawan yang baru turun dari kereta langsung menjangkau kamar tanpa perlu membuang waktu dan biaya transfer kota yang panjang. Lokasi penginapan yang dekat dengan stasiun maupun jalur utama ini sekaligus berfungsi sebagai titik tolak praktis untuk menyusun tur harian ke berbagai arah mata angin tanpa harus berulang kali memindahkan barang bawaan.
Daya Tarik Bentang Alam Berstandar UNESCO
Faktor fundamental di balik lonjakan kunjungan ini adalah penetapan kawasan Geopark Kebumen ke dalam jaringan UNESCO Global Geoparks (UGGp) bertajuk “The Mother of Earth”. Meliputi 22 kecamatan dan 374 desa, geopark ini merangkum lebih dari 40 situs geologi purba yang berpadu dengan kekayaan hayati dan budaya lokal:
Pesisir Selatan Bertebing Karst: Pantai Menganti yang menonjolkan panorama tebing curam berpadu pasir putih, Pantai Karangbolong dengan lubang gua karang alaminya, serta garis horizon samudra lepas dari Bukit Hud. Keajaiban Bawah Tanah: Goa Jatijajar dan Goa Petruk yang menyuguhkan formasi stalaktit dan stalagmit berusia ribuan tahun berbalut legenda pewayangan lokal. Lantai Samudra Purba Karangsambung: Singkapan batuan dasar samudra yang terangkat ke permukaan dan menjadi salah satu laboratorium geologi terbuka terpenting di Asia Tenggara. Lanskap Perbukitan dan Air Tenang: Waduk Sempor di sisi barat laut yang menyajikan hawa perbukitan sejuk untuk relaksasi dan rekreasi keluarga.
“Pariwisata berbasis geopark bukan sekadar upaya konservasi lingkungan, melainkan instrumen pemerataan ekonomi daerah. Aliran wisatawan mendorong perputaran ekonomi langsung ke pengelola desa wisata, perhotelan, penyedia jasa transportasi lokal, hingga pelaku kuliner seperti perajin Lanthing dan penjual Sate Ambal,” ungkap perwakilan Pemerintah Kabupaten Kebumen dalam evaluasi pembangunan berkelanjutan.
Geliat Okupansi dan Tren Tingkat Hunian
Pergeseran pola dari sekadar “melewati” menjadi “menetap dan menjelajah” tercermin nyata pada indikator Tingkat Penghunian Kamar (TPK) perhotelan di Kebumen. Berdasarkan Survei VHTS BPS Kebumen, performa hotel berbintang menunjukkan penguatan yang konsisten, mencapai puncaknya di angka 65,58% pada Desember 2025.
Tingginya TPK hotel berbintang mencerminkan kesadaran wisatawan untuk memilih fasilitas tinggal yang nyaman sebagai basis istirahat setelah seharian mengeksplorasi medan karst dan pesisir selatan. Rata-rata lama menginap yang berada di kisaran 1,13 malam menandakan adanya potensi besar untuk terus mendorong durasi tinggal wisatawan melalui paket-paket wisata terintegrasi.
Menata Ritme Perjalanan yang Realistis
Mengingat jarak dari kawasan pusat kota menuju kawasan pesisir Menganti atau gua karst Ayah berkisar antara 40 hingga 50 kilometer (1–1,5 jam perjalanan), para pemerhati wisata menyarankan segmentasi agenda yang berimbang:
1. Eksplorasi Kota & Kuliner: Hari pertama dapat dimanfaatkan untuk mencicipi Nasi Penggel di pagi hari, menikmati kuliner Sate Ambal dengan bumbu tempe khasnya, atau bersantai di ruang-ruang terbuka kota.
2. Eksplorasi Geopark & Pesisir: Menjadikan hari kedua secara penuh untuk menyusuri bentang alam selatan (Pantai Menganti, Bukit Hud, atau susur Goa Jatijajar) tanpa risiko terburu-buru mengejar jadwal kepulangan kereta.
Integrasi transportasi rel yang presisi, pengakuan dunia terhadap Geopark Kebumen, dan ekosistem akomodasi yang tertata di pusat kota menegaskan bahwa Kebumen kini telah bertransformasi menjadi salah satu alternatif wisata alam dan edukasi paling menjanjikan di Pulau Jawa.
Artikel ini juga tayang di VRITIMES