Mahasiswa UNP Kediri Hadirkan “8 Pojok” yang Menyulut Api Perubahan
Kediri, SonaIndonesia.com – Siapa sangka, sebuah desa di kaki Gunung Kelud kini ramai dibicarakan karena gebrakan mahasiswa. Desa Manggis, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri, mendadak jadi laboratorium hidup. Semua bermula dari program mahasiswa Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri yang menghadirkan konsep “8 Pojok” lewat Program Peningkatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa).
Bukan sekadar proyek biasa. Mahasiswa lintas jurusan—dari Informatika, Matematika, Manajemen, Penjas hingga Bimbingan Konseling—turun langsung, menyatukan ilmu dengan kebutuhan warga. Hasilnya? Desa Manggis menjelma jadi ruang kolaborasi yang memadukan literasi, ekonomi kreatif, teknologi digital, sampai pelestarian budaya.
Dari Sempoa Sampah Hingga Coding Game
Bayangkan, anak-anak SD di desa kini belajar matematika lewat sempoa buatan sendiri dari barang bekas. Remaja yang sebelumnya hanya akrab dengan gawai untuk bermain, kini diajari membuat coding game sederhana. Ibu-ibu rumah tangga? Mereka tak sekadar berkutat di dapur. Ada yang kini lihai membuat lilin aromaterapi, tas anyaman, bahkan berani memasarkan produk lewat platform digital.
“Semua kami desain sesuai kebutuhan desa. Anak-anak, pemuda, hingga ibu rumah tangga bisa ikut terlibat,” kata Redista Nazriana, mahasiswa Pendidikan Matematika UNP Kediri, Sabtu (27/9).
Program ini bukan berhenti di pelatihan. Produk nyata ikut lahir: website Desa Manggis, peta interaktif wisata, hingga aplikasi 360° berbasis AR/VR yang memperkenalkan budaya lokal ke dunia maya.
Lingkar Desa Cerdas
Dosen pendamping, Ika Santia, menyebut konsep ini bagian dari gagasan besar “Lingkar Desa Cerdas”. “Delapan pojok lahir dari potensi Desa Manggis. Ada wisata, kesenian, UMKM, hingga literasi. Semua kami rangkai agar masyarakat bisa berdaya dan siap beradaptasi dengan era digital,” ujarnya.
Dukungan pun tak setengah-setengah. Kemendikbudristek ikut mendanai, sementara warga desa menyambut dengan antusias. Lebih dari 150 orang terlibat aktif selama lima bulan program berlangsung.
Warga Merasa Dapat “Kunci Baru”
Bagi Sri Mariati, warga Dusun Ringin Bagus, program ini seperti menemukan jalan baru. “Dulu saya hanya bisa bikin tas sederhana. Sekarang bisa merajut, menjahit, bahkan hasilnya sudah bisa dijual secara daring,” ucapnya dengan bangga.
Hal senada diungkap Dhanas Setianur Dwi Sukma Diva, Kepala Urusan Perencanaan Desa.
“Banyak ibu-ibu petani ikut setelah pulang dari sawah. Program ini nyata membuka peluang usaha baru dan mendongkrak ekonomi desa,” tegasnya.
Tak hanya ekonomi, semangat menjaga warisan sejarah ikut berkobar. Anton Sujarwo, tokoh masyarakat Dusun Dorok, merasa kehadiran mahasiswa menghidupkan kembali minat menjaga koleksi artefak Medang hingga Majapahit.
“Kalau ada ruang khusus, bisa jadi wisata edukasi yang bermanfaat bagi masyarakat,” katanya penuh harap.
Api Perubahan
Kini, Desa Manggis tak lagi hanya dikenal sebagai desa pertanian biasa. Dari pojok baca hingga pojok budaya, dari coding digital hingga pelestarian artefak, delapan pojok itu berhasil menyalakan api perubahan.
Pemerintah desa pun bertekad mendukung keberlanjutan program. Sebab, “8 Pojok” bukan sekadar kumpulan kegiatan—ia adalah simbol transformasi.
Di tangan mahasiswa UNP Kediri, Desa Manggis mendapat panggung baru: panggung inovasi, harapan, dan masa depan yang lebih cerdas. (Sumi)
