Oleh: Malika Dwi Ana
Di panggung politik Indonesia, Prabowo Subianto menari di atas papan catur dengan penuh intrik, bak grandmaster yang mengatur bidak-bidaknya dengan licik namun memukau. Sorotan lampu Istana menyinari langkah-langkahnya yang penuh drama: dari pengibaran bendera One Piece yang absurd, isu kenaikan gaji DPR yang membakar emosi rakyat, hingga penangkapan Immanuel Ebenezer (Noel) oleh KPK. Tapi, di balik tirai, ada agenda yang lebih besar: menyingkirkan bayang-bayang Joko Widodo, sang “Raja Solo,” yang masih menghantui lewat Gibran Rakabuming Raka dan jejaring “Geng Solo.” Dengan Airlangga Hartarto dan Erick Thohir sebagai bidak kunci, apakah Prabowo sedang memainkan teater politik paling epik, atau justru menari di ambang jurang?
Bendera One Piece dan Kenaikan Gaji DPR: Sandiwara Publik?
Bayangkan pemandangan ini: bendera Topi Jerami dari One Piece berkibar di tengah gemuruh politik Jakarta, dan Prabowo dengan senyum penuh misteri, konon tidak melarangnya. Ini tampaknya bukan sekadar lelucon, tapi bidak kecil yang dilemparkan untuk mengacau publik.
Sementara netizen terus sibuk membahas Luffy, isu kenaikan gaji DPR—yang diduga sengaja dihembuskan—meledak bagai granat…bang!!! Tujuannya? Memancing amuk rakyat, memicu demonstrasi, dan membiarkan DPR tenggelam dalam lumpur citra yang buruk. Prabowo, layaknya sutradara ulung, tampil sebagai penyelamat yang “bijak,” dan berbisik, “Bubarkan DPR? Itu urusan rakyat!” Tapi di balik tawa, ada aroma konspirasi untuk melemahkan legislatif tanpa perlu mengotori tangan, ala strategi Jawa “Nabok Nyilih Tangan.”
Maka masuklah babak utama drama, yakni penangkapan Immanuel Ebenezer, alias Noel, Wakil Menteri Ketenagakerjaan yang baru sebulan menikmati kursi empuk Kabinet Merah Putih. Immanuel Ebenezer, bidak yang tumbang pada 20 Agustus 2025, KPK menyeretnya dalam operasi tangkap tangan terkait dugaan pemerasan sertifikasi K3, lengkap dengan barang bukti puluhan mobil dan motor Ducati—seperti plot sinetron korupsi kelas kakap! Noel, yang dulu mengibarkan bendera Jokowi Mania sebelum loncat ke Prabowo Mania 08, tiba-tiba jadi bidak yang “dikorbankan.” Kebetulankah? Atau langkah catur cerdas untuk memukul jejaring Jokowi tanpa membuat Gibran, sang wakil presiden, mengamuk? Dengan nada penuh penyesalan, Mensesneg Prasetyo Hadi menyatakan Noel akan diganti jika terbukti bersalah. Betapa mulianya! Tapi jangan tertipu: ini adalah pukulan telak bagi loyalis Jokowi, diselimuti propaganda antikorupsi yang manis.
Di balik drama Noel, ada monster yang lebih besar: “Geng Solo,” bayang-bayang Jokowi yang tak pernah redup. Geng Solo adalah istilah untuk menyebut jejaring loyalis Jokowi yang masih berkuasa di kabinet Prabowo. Nama-nama seperti Airlangga Hartarto (Menko Perekonomian) dan Erick Thohir (Menteri BUMN) menjadi sorotan. Airlangga, mantan ketua umum Golkar, adalah veteran politik yang selamat dari badai reshuffle era Jokowi, dikenal sebagai “Luhut generasi kedua” karena kedekatannya dengan kekuasaan.
Erick, dengan pesona sepak bola dan transformasi BUMN, adalah “menteri andalan” Jokowi yang bahkan mendapat restu untuk menjadi Ketua PSSI—meski melanggar aturan rangkap jabatan. Keduanya, bersama menteri lain seperti Sri Mulyani, Tito Karnavian, dan Budi Arie, disebut-sebut sebagai “Menteri Geng Solo” yang tetap sowan ke Jokowi di Solo, seolah ia masih “bos” mereka.
Beberapa postingan di medsos bahkan menuduh “Geng Solo” sebagai biang kerok korupsi dan ancaman demokrasi, dengan spekulasi liar tentang “rapat gelap” untuk gerakan separatis atau makzulkan Prabowo. Meski tak ada bukti konkret, narasi ini memperkuat persepsi bahwa Prabowo harus “membersihkan” jejaring Jokowi untuk mengamankan tahta. Erick Thohir, misalnya, sempat dirumorkan akan digantikan oleh Jeffrie Geovanie, loyalis Jokowi dari PSI, pada Maret 2025, ini memicu tuduhan bahwa Prabowo masih dalam cengkeraman Solo. Namun, hingga Agustus 2025, Erick tetap bertahan, menunjukkan bahwa “pembersihan” ini bukanlah tugas yang mudah.
Pelajaran dari Sejarah: Gus Dur dan Soekarno di Persimpangan
Prabowo bukanlah aktor baru di panggung politik. Ia belajar dari dua presiden yang gagal di papan catur: Gus Dur dan Soekarno. Gus Dur, pada 2001, dengan nekat mengeluarkan dekrit untuk membubarkan DPR, namun berakhir dilengserkan dalam Sidang Istimewa. Ia lupa bahwa tanpa koalisi kuat, bidak sekecil apa pun bisa jadi bumerang. Soekarno, dengan prinsip “tidak ada matahari kembar,” menyingkirkan Tan Malaka, Sutan Sjahrir, dan Kartosoewirjo dengan tangan besi—dari eksekusi hingga pengasingan. Tapi pendekatan brutal ini memicu polarisasi, yang berujung pada Gestapu 1965 dan kejatuhannya. Prabowo, dengan pengalaman Orde Baru dan era Jokowi, tahu risiko konfrontasi langsung. Ia memilih jalur licin dengan membiarkan KPK menangani Noel, memanfaatkan tagar #IndonesiaGelap untuk menggoyang DPR, dan membiarkan “Geng Solo” terkikis pelan-pelan tanpa perang terbuka.
Lain halnya dengan Airlangga dan Erick, keduanya adalah bidak besar yang sulit digoyang. Mereka bukan sembarang bidak. Airlangga, dengan Golkar di belakangnya, adalah pilar koalisi Prabowo yang sulit disentuh. Meski dukungannya sebagai cawapres stagnan pada 2023, ia tetap bertahan sebagai Menko Perekonomian, memimpin kebijakan seperti diskon tarif listrik 2025.
Erick, dengan pesona global dan kedekatan dengan Jokowi (bahkan ikut mengelola Persis Solo bersama Kaesang), adalah figur yang terlalu populer untuk “dikorbankan” begitu saja. Rumor bahwa loyalisnya dicopot satu per satu—seperti staf khususnya Arya Sinulingga dari Telkom—menggambarkan tekanan halus terhadapnya. Namun, keduanya tetap sowan ke Jokowi, yang memicu sindiran “matahari kembar”, seolah Jakarta dan Solo punya raja masing-masing.
Di papan catur Prabowo, setiap bidak punya peran. Noel adalah bidak kecil yang tumbang untuk propaganda antikorupsi. Isu DPR dan bendera One Piece adalah asap untuk mengacaubalaukan. Sedang Airlangga dan Erick adalah bidak besar yang harus dikelola hati-hati, sementara KPK berperan sebagai algojo tak langsung. Tapi, permainan ini penuh risiko. Pemotongan gaji ke-13 PNS memicu #KaburAjaDulu, dan “kabinet gemuk” Prabowo jadi bahan cemoohan segenap publik. Jika “Geng Solo” terus menggeliat, atau jika rakyat lelah dengan teater ini, Prabowo bisa terjebak seperti nasib Gus Dur atau Soekarno. Akankah ia menjadi matahari tunggal, atau justru tersapu badai politik yang ia ciptakan sendiri? Mbuh lah! (mda)
—SorMahoni, 22082025—
Penulis: Malika Dwi Ana, Pengamat Sosial Politik.
