Oleh : Malika Dwi Ana
Yang masih ngotot bilang MBG adalah “program negara untuk bangsa, bukan pemerintah untuk rakyat”, sebaiknya baca analisa ini sampai habis. Karena yang disebut “pembodohan” itu justru narasi yang menutupi realitas: MBG sudah menjadi mesin politik dan bisnis yang sangat menguntungkan, dirancang agar tidak bisa dihentikan meski ada ribuan korban keracunan, meski anggaran pendidikan disunat, dan meski rakyat sudah berteriak.
Mari kita bedah secara hierarki, dari atas ke bawah:
- Anak sekolah bukan pemilih 2029? Salah besar.
Siswa SMA kelas 3 tahun 2026 sudah berusia 18 tahun di 2029 — mereka punya hak pilih. Bahkan kelas 1 SMA 2026 akan berusia 19 tahun. Generasi MBG ini akan masuk TPS dengan hutang budi yang nyata: makan siang gratis setiap hari selama bertahun-tahun. Ini politik perut generasi baru yang sangat efektif. - Struktur BGN: Didominasi purnawirawan TNI
Badan Gizi Nasional (BGN) yang mengelola program ini bukan lembaga gizi biasa. Wakil Kepala: Mayjen TNI (Purn) Lodewyk Pusung. Sekretaris Utama: Brigjen (Purn) Sarwono. Inspektur Utama: Brigjen (Purn) Jimmy Alexander Adirman. Beberapa deputi juga purnawirawan. Mayoritas eselon tinggi adalah mantan jenderal. Yayasan-yayasan mitra di daerah juga banyak berafiliasi dengan jaringan pensiunan TNI. Ini bukan kebetulan — ini adalah kontrol terstruktur. - Modal Awal & Siapa Yang Mampu
Mendirikan satu SPPG (dapur MBG) tanpa menghitung tanah dan bangunan butuh sekitar Rp1,5 miliar untuk peralatan lengkap. Siapa yang sanggup? Pengusaha menengah, pejabat daerah, DPRD, bupati/walikota, hingga jaringan Kodam-Kodim dan Polda-Polres. Orang kecil sudah pasti sulit masuk. - Owner Kecil & Potongan Yayasan
Di bawah owner besar ada ribuan pengusaha level menengah ke bawah yang “muter otak” setiap hari. Yayasan koordinator sering memotong Rp4.000–Rp5.000 dari Rp10.000–15.000 per porsi untuk “fee” dan alasan operasional. Sisa dana buat bahan baku, gaji, dan sewa. Ini level yang paling rentan, tapi tetap ikut karena cuan tetap menggiurkan.
5–6. Lapisan Bawah: ASN & Jutaan “Lapangan Kerja”
Kepala dapur, ahli gizi, dan akuntan (SPPI) sudah banyak yang diangkat jadi ASN sejak Juli 2025. Sementara koki, helper, driver, packing, dan cuci piring (rata-rata 40–50 orang per dapur) adalah massa yang Prabowo banggakan sebagai “1 juta lapangan kerja” (bahkan ada klaim 1,9 juta). Ini tenaga kerja yang bergantung program(baca=proyek). Kalau MBG berhenti, mereka kena PHK massal. Loyalitas terjamin.
- Supplier Kakap & Tengkulak Kroni
Di puncak rantai ada perusahaan besar (Pokphand, Japfa, Widodo Makmur, Ultra Jaya, dll.) plus tengkulak lokal yang dibekingi aparat. Mereka menguasai suplai beras, ayam, telur, susu, dan bahan baku. Ini artinya oligopoli yang di-backup jejaring kekuasaan.
Hitung Cuannya
Satu dapur bisa raup laba bersih sekitar Rp200 juta per bulan (Rp2,4 miliar setahun). Kalau satu orang kuasai 3–5 dapur, dalam 5 tahun bisa puluhan miliar. Belum lagi pesantren besar (5.000–20.000 santri) yang dapat MBG + SPP bulanan utuh, kades/lurah yang dapat “mainan” dana desa, ormas seperti MUI yang dijanjikan gedung megah 40 lantai, dan jutaan aparat desa serta karyawan koperasi. Maka ini adalah mesin politik yang brutal.
Karena itu, jangan heran jika Prabowo tampak “tidak peduli” dengan kritik rakyat, keracunan ribuan siswa, atau potongan anggaran pendidikan. Dia tidak butuh suara rakyat biasa lagi — dia sudah pegang simpul-simpul kekuasaan yang jauh lebih kuat: militer, pesantren, pengusaha lokal, ormas, dan desa.
Jadi ini bukan lagi soal gizi anak. Tapi soal investasi politik jangka panjang untuk 2029 dan seterusnya. Yang namanya proyek sebesar ini, dengan cuan sebesar ini, tidak akan rela dimatikan hanya karena “rengekan rakyat” yang anaknya keracunan, atau guru dijadikan budak, karena nambah ekstra pekerjaan membagi MBG tanpa honor tambahan.
Maka, jika ini urusan politik, kita semua harus berpikir independen. Jangan ikut-ikutan ulama atau tokoh yang sibuk nyari selamat sendiri. Publik sudah semakin kritis. Narasi “ini dari negara untuk bangsa” semakin sulit menutupi realitas: bahwa MBG ADALAH PROYEK YANG SANGAT MENGUNTUNGKAN SEGELINTIR ORANG DENGAN RISIKO YANG DITANGGUNG RAKYAT — terutama anak sekolah.
Waktunya berhenti pura-pura buta, berhenti berpura-pura budeg. Ini bukan program mulia yang dikritik orang hasud dan iri. Tapi ini mesin politik yang sangat rapi dan sangat mahal!
Pengamat Sosial Politik
11 Februari 2026
