OPINI: Ngaji Massal Usir Sihir

oleh -
oleh

Mengaji, berdoa, atau bacaan-bacaan salat, zikir, bahkan azan itu jika dilihat dari sudut pandang bunyi atau suara kira-kira hampir sama dengan membaca mantra. Semuanya mengandung vibrasi. Vibrasi ada karena ada nada, Tuhan Maha Tahu dan mengerti semua bahasa, bahkan tanpa diucapkan dengan suara pun Tuhan sudah mengerti. Karena kata hati atau suara hati itu sesungguhnya mengeluarkan vibrasi. Tapi tidak semua jenis suara atau nada mampu didengar oleh telinga manusia biasa. Baru dengan sadhana (laku spiritual untuk meningkatkan kesadaran ruhani, misal tirakat) orang bisa mendengar kata hati orang meskipun orang itu tidak mengeluarkan suara. Hal ini terjadi karena adanya getaran suara yang menimbulkan vibrasi. Sama dengan orang yang saling naksir dan jatuh cinta. Awalnya saling memandang, tanpa bersuara, vibrasi batinnya akan saling berbicara, dan klik. 

Dari sisi spiritual, bacaan ayat-ayat atau mengaji itu menimbulkan bunyi-bunyian dengung yang frekuensinya kurang lebih sama dengan frekuensi yang ditimbulkan oleh singing bowl. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, frekuensi merupakan jumlah getaran gelombang suara per detik atau jumlah getaran.

Ilustrasi: mengaji di trotoar.

Suara orang mengaji, bacaan salat, azan, mantra, singing bowl atau kalau versi di gamelan Jawa pake bonang, kethuk kenong serta gong atau suara hooongg ahung dalam sembahyangnya penghayat keyakinan lokal bisa membuat sound healing melalui vibrasi suara yang dihasilkannya. Adalah sebuah metode yang efektif dan terbukti mampu mengurai stres, meningkatkan kesadaran dan menciptakan rasa damai dan sehat yang menyeluruh. Bahwa suara mampu memperbaiki setiap ketidakseimbangan pada fungsi fisiologis dan memainkan peran yang sangat positif dalam perawatan terhadap setiap gangguan medis. Yang mengaji maupun yang mendengarkan akan merasa lebih tenang dan lebih kreatif dalam tingkat kesadaran yang damai dan nyaman.

Suara-suara di atas menghasilkan paduan resonansi yang dahsyat, selain mengurangi stres, bisa menyeimbangkan chakra, sinkronisasi energi tubuh serta memicu penyembuhan spontan dan untuk memperbaiki sirkulasi energi yang baik. Yang negatif-negatif, kuasa kegelapan, bencana alam (Cathastrophie), pandemi/pagebluk berkepanjangan, berbagai teluh, sihir kapitalis yang menyelimuti bangsa ini diharapkan ambyar seketika, digantikan energi yang positif. Yang jahat-jahat dan koruptif semoga akan digantikan dengan yang baik-baik. Kegelapan menjadi terang karena keberadaan cahaya, dari situasi dzulumat ilannur menuju cahaya, minadzulumat ilannur. Situasi yang disebut dengan habis gelap terbitlah terang. Dan Islam mengenal iconografi “Innama Amruhu Idza Arada Syaian An Yaqula Lahu Kun Fayakun”, jika Dia berkehendak, maka jadilah!  (mda) 

Demikianlah kurang lebihnya, kopi_kir sendirilah!

Penulis: Malika Dwi Ana, Social Politik Ethnoscience Enthusiast.