Yogyakarta, SonaIndonesia.com – Upaya memperkuat sistem perlindungan santri terus digencarkan. Rabithah Ma’ahid Islamiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (RMI PBNU) bersama Satuan Penanggulangan Kekerasan di Pesantren (SAKA) PBNU menggelar Training of Trainers (ToT) Pelatihan Musyrif-Musyrifah di Hotel Cavinton, Yogyakarta, Kamis (16/7/2026).
Pelatihan ini menjadi langkah penting untuk melahirkan lebih banyak fasilitator yang siap mengawal pengasuhan ramah anak dan pencegahan kekerasan di lingkungan pesantren.
Perluas Fasilitator, Jawab Tingginya Permintaan Pesantren
Membuka acara, KH Marzuki Wahid menegaskan bahwa ToT ini bukan sekadar pelatihan biasa, melainkan strategi jangka panjang untuk memperluas gerakan pesantren ramah santri.
“Training of Trainers ini merupakan pelatihan untuk para pelatih. Panjenengan semua di sini akan dilatih menjadi pelatih,” ujar Kiai Marzuki di hadapan peserta.
Ia mengaku, selama ini tim fasilitator nasional masih sangat terbatas. Sementara itu, kesadaran pesantren untuk berbenah dan memperkuat sistem pengasuhan justru tumbuh pesat di berbagai daerah.
“Selama ini kami kewalahan memenuhi undangan dari berbagai pesantren. Kesadaran untuk mengadakan pelatihan seperti ini sudah tumbuh di banyak tempat. Karena itu, RMI PBNU bersama SAKA PBNU memandang perlu memperbanyak dan memperluas trainer agar pelatihan dapat menjangkau lebih banyak pesantren,” jelasnya.
Fokus Cegah Kekerasan dan Perkuat Pengasuhan Positif
Para peserta ToT nantinya diproyeksikan menjadi motor penggerak di wilayahnya masing-masing. Mereka akan dilatih untuk melatih kembali para musyrif, musyrifah, pengasuh, hingga tenaga pendidik di pesantren.
Tujuannya jelas, agar upaya pencegahan kekerasan tidak hanya bertumpu pada segelintir orang di pusat, tetapi tumbuh dan berkelanjutan dari daerah.
Menurut KH Marzuki, penguatan ini sangat mendesak. Kasus-kasus kekerasan yang masih terjadi di dunia pendidikan, termasuk di pesantren, harus menjadi alarm bersama.
“Jangan sampai ada kekerasan terjadi di pesantren. Kalaupun terjadi, pesantren harus mempunyai mekanisme penanganan yang sesuai dengan etika kita sebagai orang pesantren dan sebagai warga Nahdlatul Ulama dalam menangani kekerasan di pesantren,” tegasnya.
Cetak Agen Perubahan di Pesantren
Lebih dari sekadar transfer ilmu, ToT ini diharapkan melahirkan agen-agen perubahan. Sosok yang tidak hanya paham materi, tetapi juga mampu membangun budaya pengasuhan yang positif, empatik, dan melindungi.
Dengan semakin banyaknya trainer yang tersebar, RMI dan SAKA PBNU optimistis ekosistem pesantren yang aman, nyaman, dan bebas dari kekerasan akan semakin cepat terwujud.
