Ini yang tidak pernah jelas. Apalagi jika ada skenario jahat antara PKC (Partai Komunis Cina) dengan CIA, dimana keduanya bersepakat menguasai Indonesia dengan bagi-bagi wilayah kekuasaan dan sumber daya ekonomi.
Kapal-kapal Cina menyusup ke LCS. Lalu negara-negara di kawasan Asia Tenggara panik, dan meminta bantuan kekuatan Barat untuk datang menghadapi Cina.
Barat mereaksi dengan mengirim kapal induk. Tak tanggung-tanggung, setidaknya lima kapal induk Barat didatangkan ke kawasan ini.
Lalu next episode: begitu kapal-kapal Barat berdatangan, boro-boro menghalau kapal-kapal Cina, ternyata malah bergabung dengan kekuatan Cina demi membantu mempercepat pencaplokan wilayah LCS oleh Cina, dengan skema bagi-bagi hasil jarahan setelah pencaplokan berhasil.
Terus Indonesia mau ngapain? Atau harus bersikap bagaimana?
Dari mulai Menkopolhukam, Menhan, Menteri Kelautan, hingga Menko Maritim sikapnya layak dipertanyakan. Dari mulai yang terlihat berapi-api tapi hanya retorika, hingga cool dan santai, sampai yang gak mau terprovokasi, serta bilang jangan diributkan.
Masalahnya memang lucu, karena kalaupun mau punya sikap yang koheren, secara kapasitas, Indonesia memang tidak mampu dan terlihat tidak punya kesiapan menghadapinya juga. Sama kapal ikan saja bingung, gimana mau menghadapi kapal perang?

Tempo hari saja kapal selam kita yang hilang, mereka yang cariin. Dan dengan naifnya, Indonesia mengizinkan. Mereka dengan senang hati mengobok-obok wilayah perairan Indonesia, sambil menyelam minum air, sambil alih-alih membantu bisa sambil mendapatkan info berharga soal peta bawah laut Indonesia. Jadi misalkan Cina perang sama Indonesia, kapal selam dia bisa dengan leluasa masuk ke teritori kita karena sudah tahu peta bawah laut. Kalau misal kapal selam Cina bawa bom nuklir dan jeblus ke Tanjung Priok, bisa hancur Jakarta sekali sentil, lalu para tentara merah berkedok TKA bergerak serentak. Wah jadi jemblem tenan Indonesia.
Banyak usulan bahwa yang perlu dibangun itu kapasitas pertahanan dan keamanan negara. Kemenhan katanya punya Program 1000 Triliun untuk modernisasi peralatan Hankam.
Tapi tidak pernah terlalu jelas juga apa yang mau dilakukan. Sepuluh tahun terakhir ya begini-begini saja. Miskin imajinasi. Apalagi dengan mental para pengambil kebijakan yang mirip marsose, lebih suka menjadi jongos, komprador dan pengkhianat.
Kopi_kir sendirilah!
Penulis: Malika Dwi Ana, Pemerhati Sosial, Politik, Budaya dan Sejarah.