Dan dari perspektif geopolitik, elemen geoekonomi di Afghanistan yang diperebutkan oleh para adidaya — ditengarai ada tiga hal pokok, antara lain adalah:
- Emas, minyak dan gas bumi, terutama lithium. Bahkan muncul asumsi global bahwa Afghanistan dianggap “Arab Saudi”-nya lithium setelah Bolivia. Lithium adalah bahan baku industri masa depan;
- Ladang-ladang opium berkualitas terbaik di dunia; dan
- Jalur Wakhan (Wakhan Corridor). Ini merupakan jalur strategis karena membentang tak terputus dari Afghanistan sampai ke China. Membelah antara Tajikistan di sebelah kiri dan Pakistan di sisi kanan. Wakhan merupakan penggalan Jalur Sutra yang melegenda, membentang dari perbatasan China dan Rusia, Asia Tengah, Afrika Utara hingga Maroko. Jalur yang memisahkan antara Dunia Barat dan Timur.
Itulah sepintas unsur-unsur geoekonomi Afghanistan yang tengah diperebutkan para adidaya di panggung geopolitik global.
Lantas, kenapa dulu (2001) Afghanistan diserbu oleh koalisi militer Barat pimpinan AS berbekal tuduhan isu bahwa Osama bin Laden itu pimpinan Al Qaeda bersembunyi di Afghanistan?
Dalam geopolitik, cara terbaik meraih geoekonomi ialah melalui geostrategi. Istilah lain geostrategi ialah the best way to reach the goal. Jadi urut-urutannya jelas: geopolitik – geostrategi – geoekonomi. Jangan terbalik atau dibolak-balik.
Politik praktis itu bukanlah yang tersurat melainkan apa yang tersirat, kata Pepe Escobar, wartawan senior Asia Times, ketika superpower men-stigma bahwa ada teroris, atau terdapat pimpinan tirani, negeri tidak demokratis dan lain-lain — itu artinya di negara tersebut ada emas, minyak dan gas bumi.
Jadi, isu Al Qaeda di Afghanistan tempo doeloe hanyalah bagian (geo) strategi AS dan sekutunya. Kenapa? Karena usai isu Al Qaeda ditebar ke publik, agenda lanjutannya adalah penyerbuan militer koalisi pimpinan AS berdalih memerangi terorisme, sedang skema kolonialisnya ialah mencaplok geoekonomi.
Retorikanya sederhana: Seandainya Afghanistan cuma penghasil gaplek, apakah isu-isu hilir akan ditebar disana? Apakah akan ada isu Al Qaeda di sana; atau contoh lain, jika Irak hanya produsen susu onta, apakah bakal muncul isu senjata pemusnah massal di era Saddam?
Ketika AS mencabut kekuatan militernya dari Afghanistan, bukan berarti Paman Sam kalah berperang melawan Taliban. Permainan belum selesai. Niscaya ada (geo) strategi lain tengah dipersiapkan daripada sekedar mempertahankan opsi militer yang high cost, gaduh lagi tak kunjung usai —semenjak 2001— sedang kemenangan belum dijamin. Maka keputusan penarikan militer merupakan langkah tepat meski dengan segala konsekuensi. Namun sekali lagi, akan ada opsi lain pascapencabutan pasukan. Kenapa? Karena bagi kaum kapitalis, elemen geoekonomi Afghanistan yang didominasi unsur industri masa depan, terlalu naif jika dilewatkan.
Ya… adanya kabar bahwa 100 pasukan khusus Afghanistan lari ke Inggris, perlu menjadi catatan tersendiri bagi Taliban karena kelak dapat menjadi kendala di kemudian hari. Apakah mereka akan comeback, lalu menciptakan perang saudara (civil war)? Entahlah. Juga munculnya ISIS-K yang meledakkan Bandara di Kabul, jangan-jangan hanya false flag operation pihak asing?
Termasuk kelompok anti-Taliban pimpinan Ahmad Massoud di Lembah Panjshir, satu – satunya wilayah Afghanistan yang belum pernah tersentuh oleh siapapun baik di era pendudukan Uni Soviet maupun ketika Afghanistan dikuasai Taliban baik dulu dan sekarang.
Jkt, 27 Agustus 2021
Penulis: Malika Dwi Ana, Pemerhati sosial, tinggal di Ngawi, Jawa Timur.
