Jember, SonaIndonesia.com – Universitas Jember (UNEJ) kembali menambah daftar guru besarnya. Kali ini tujuh profesor dikukuhkan oleh Ketua Senat bersama Rektor di Gedung Auditorium Kampus Tegalboto pada Rabu (13/11).
Para guru besar yang dikukuhkan tersebut yaitu Prof. Dr. Ahmad Roziq, S.E., M.M., Ak., Guru Besar Akuntansi Syariah Program Studi Akuntansi dan Prof. Dr. Ika Barokah Suryaningsih, S.E., M.M., Guru Besar Manajemen Pemasaran Jasa Program Studi Manajemen dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB). Kemudian ada dua profesor baru dari Program Studi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan Ilmu dan Pendidikan (FKIP) yakni Prof. Dr. Dwi Wahyuni, M.Kes., Guru Besar Sains Biomedis dan Prof. Dr. Iis Nur Asyiah, S.P., M.P. Guru Besar Pengendalian Nematoda Parasit Tanaman.
Dari Fakultas Pertanian menyumbangkan tiga guru besar baru, yaitu Prof. Dr. Ir. Slameto, M.P., Guru Besar Fisiologi Tanaman Program Studi Agroteknologi, Prof. Dr. Ir. Parawita Dewanti, M.P., Guru Besar Kultur Jaringan Tanaman Program Studi Agronomi dan Prof. Mohammad Rondhi, S.P., M.P. Ph.D., Guru Besar Kelembagaan Agribisnis Program Studi Agribisnis.
Pengukuhan guru besar kali ini terbilang istimewa karena ada dua guru besar baru yang memiliki pasangan hidup profesor juga di UNEJ. Mereka adalah pasangan Prof. Ika Barokah Suryaningsih dengan Prof. Sumani, keduanya sama-sama berkarya di Program Studi Manajemen FEB. Begitu pula dengan Prof. Dwi Wahyuni yang bersuamikan Prof. Joko Waluyo, keduanya adalah dosen di Program Studi Pendidikan Biologi FKIP.
Satu per satu guru besar tersebut membacakan orasi ilmiahnya. Mulai dari tentang bank syariah, pariwisata, abate bahan alami biji pepaya, kultur jaringan, hingga tentang pembangunan pertanian. Sedang Rektor UNEJ, Iwan Taruna menegaskan pentingnya peran profesor sebagai lokomotif kemajuan pendidikan tinggi.
Orasi ilmiah pertama disampaikan oleh Prof. A. Roziq, yang membawakan judul “Membangun Teori Agensi Syariah: Fondasi dan Aplikasinya Pada Entitas Syariah yang Berkelanjutan”. Dilanjutkan Prof. Ika Barokah Suryaningsih yang banyak menjelaskan tentang bagaimana seharusnya pemasaran jasa pariwisata dilaksanakan di era society 5.0. melalui judul orasi “Transformasi Pemasaran Jasa: Truth or Dare, Dalam membangun Kesadaran ESG Industri Pariwisata”.
Orasi ilmiah ketiga dibawakan Prof. Parawita Dewanti yang juga dikenal sebagai peneliti dan pemulia anggrek. Melalui orasi ilmiah berjudul “Membangun Pertanian Masa Depan: Inovasi Kultur Jaringan dan Pembentukan Tanaman Generasi Baru”, dosen di Program Studi Agronomi ini menawarkan kultur jaringan sebagai salah satu cara membentuk tanaman baru yang lebih tahan penyakit dan mudah beradaptasi menghadapi perubahan lingkungan, serta mempercepat produksi tanaman.
Masih terkait tanaman, Prof. Dwi Wahyuni guru besar pada Program Studi Pendidikan Biologi menawarkan bahan alami sebagai sebagai alternatif pengganti bubuk Abate sebagai pembunuh larva nyamuk. Misalnya menggunakan biji pepaya, biji srikaya, dauh sirih, yang setelah melalui proses bioprospeksi dapat membunuh larva nyamuk. Penggunaan bahan alami diharapkan akan mengurangi pemakaian Abate yang jika digunakan dalam waktu lama memiliki dampak negatif. Judul orasi ilmiahnya adalah “Bioprospeksi Tanaman: Sebagai Alternatif Biolarvasida Baru Pemberantas Larva Nyamuk Aedes Aegypty”.
Sementara itu Prof. Slameto mengingatkan pelaku pertanian untuk memastikan pengelolaan nutrisi tanaman dalam hal ini pupuk secara bijaksana guna menjalankan pertanian berkelanjutan. Judul orasi ilmiahnya adalah “Pengelolaan Nutrisi Tanaman Dalam Praktik Pertanian Berkelanjutan Sebagai Solusi Pertanian Abad 21”.
Selanjutnya Prof. M. Rondhi yang banyak menjelaskan penelitiannya mengenai hubungan petani dengan mitra atau perusahaan dalam orasi ilmiahnya berjudul “Peran Keilmuan Kelembagaan Agribisnis Dalam menjawab Permasalahan Pembangunan Pertanian”.
Orasi ilmiah ditutup oleh Prof. Iis Nur Aisyah yang menawarkan penggunaan agen hayati dalam menyelesaikan serangan nematoda pada tanaman. Judul orasinya adalah “Pengendalian Hayati Nematoda Parasit Tanaman Untuk Pertanian berkelanjutan”.
Sementara itu dalam sambutanya, Rektor Unej, Iwan Taruna mengatakan bahwa gelar profesor menjadi puncak pencapaian bagi dosen namun bukan akhir perjuangan. Setelah dilantik dan dikukuhkan, masyarakat menunggu karya nyata selanjutnya.
“Profesor diharapkan juga menjadi suri tauladan sekaligus mitra yang bisa mendorong sesama dosen untuk mencapai gelar profesor. Saat ini sudah ada 80 guru besar di UNEJ, sementara 12 orang lainnya prosesnya masih berlanjut di Ditjen Dikti Kemdikbudristek,” papar Iwan Taruna.
Pengukuhan profesor, lanjut Iwan, selalu menjadi momen istimewa bagi dosen mengingat jabatan guru besar adalah jabatan fungsional tertinggi, yang pasti diraih dengan kerja keras bertahun-tahun dan ketekunan tinggi.
“Oleh karena itu saya berharap tambahan guru besar bakal meningkatkan reputasi UNEJ sekaligus lokomotif yang akan menggerakkan kiprah Tri Dharma Perguruan Tinggi kita,” tutur Iwan Taruna. (salim)
