Belajar dari Desa Carangsari, Apkasi Sukses Gelar Bimtek dan Studi Tiru Desa Wisata

  • Whatsapp

Badung Bali, SonaIndonesia.com – Pengembangan desa wisata tengah menjadi tren dua tahun belakangan ini. Namun sayangnya, banyak desa wisata yang layu sebelum berkembang karena tidak diimbangi dengan pengelolaan yang baik. Padahal, jika desa wisata dikelola dengan baik dapat mendongkrak kunjungan wisata dan pendapatan masyarakat.

Hal ini tentu menjadi perhatian Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi). Langkah cepat pun diambil Apkasi dengan menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) dan Studi Tiru Pengembangan dan Pengelolaan Desa Wisata Berbasis Masyarakat dan Potensi Lokal selama tiga hari di Desa Carangsari, Kabupaten Badung, Bali, 26-28 Mei 2022.

Bacaan Lainnya

Angkatan pertama ini diikuti sebanyak 120 peserta dari berbagai kabupaten yang antusias mengamati dan belajar dari kesuksesan Desa Carangsari dalam mengelola potensi yang dimiliki menjadi desa wisata yang kini laris dikunjungi. Desa Wisata Carangsari menjadi tujuan pembelajaran karena ia memiliki prestasi dengan meraih Juara I Desa Wisata Terbaik Kategori Konten Kreatif Anugerah Desa Wisata Indonesia yang diselenggarakan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif tahun 2021-2022.  

Mewakili Dewan Pengurus Apkasi, Bupati Halmahera Selatan Usman Sidik berkesempatan membuka secara resmi kegiatan Bimtek dan Studi Tiru Pengembangan Desa Wisata Carang Sari, Kabupaten Badung-Bali dengan mengusung tema “Pengembangan dan Pengelolaan Desa Wisata Berbasis Masyarakat dan Potensi Lokal”.

Usman dalam sambutannya menyampaikan bahwa sebagai upaya percepatan pemulihan ekonomi di daerah yang sempat terpuruk akibat adanya pandemi Covid-19, adalah dengan menghidupkan kembali kegiatan ekonomi di desa-desa.

“Pengembangan program desa wisata di beberapa kabupaten termasuk di Kabupaten Badung Bali, nyatanya mampu memberikan kontribusi positif terhadap peningkatan pendapatan masyarakat, penyerapan tenaga kerja dan membangkitkan UMKM yang secara langsung ikut mendorong roda perekonomian di daerah,” imbuh Usman.

Apkasi, lanjut Usman, merasa perlu mewadahi hal tersebut melalui program studi tiru atau best practice transfer program pengembangan desa wisata.

“Pengembangan Desa Wisata ini hanya dapat terwujud jika semua pihak berpartisipasi dalam pengembangan desa wisata yang berkesinambungan. Dukungan dari Kemenparekraf masih sangat diperlukan dan dinantikan oleh daerah dalam pengembangan kapasitas daerah di bidang kepariwisataan dan ekonomi kreatif,” ujar Usman.

Terkait kegiatan bimtek dan studi tiru, Direktur Eksekutif Apkasi Sarman Simanjorang melaporkan bahwa kegiatan ini diikuti oleh 120 peserta terdiri dari Bupati di antaranya hadir Hidayattullah Sjahid (Bupati Kepahiang), H. Alfedri (Bupati Siak), Eddy Keleng Ate Berutu (Bupati Dairi), Hj. Ristawati Purwaningsih (Wakil Bupati Kebumen) serta para Kepala Dinas, Camat,  dan sebagian besar adalah Kepala Desa yang berasal dari 16 Kabupaten.

Sebagai narasumber dalam sesi classroom hadir Direktur Tata Kelola Destinasi dan Pariwisata Berkelanjutan, Kemenparekraf, Indra Ni Tua yang memaparkan dukungan Kemenparekraf terhadap kebijakan & infrastruktur pengembangan Desa Wisata berbasis masyarakat dan potensi lokal. Tampil juga Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Badung, I Nyoman Rudiarta yang sharing bagaimana sudut pandang pemerintah Kabupaten Badung mengembangkan konsep pariwisata berkelanjutan. Dari sisi praktisi juga tampil berbagi pengalaman yang luar biasa dari Inisiator Desa Wisata Carangsari, Ida Bagus Nama Rupa.

Selanjutnya kegiatan bimtek dan studi tiru lebih banyak diisi dengan kunjungan ke beberapa destinasi di Desa Wisata Carangsari mulai dari wisata alam, sejarah, budaya, buatan, edukasi dan homestay, di mana para peserta dijelaskan secara mendalam bagaimana mengelola dengan baik destinasi-destinasi tersebut, hingga dapat mendongkrak kunjungan wisata dan pendapatan masyarakat.

Yang paling mengesankan adalah saat para peserta diajak terlibat aktif dalam mempersiapkan performance Tari Kecak Revolution. Kalau selama ini para peserta hanya menyaksikan penampilan Tari Kecak, di sesi ini konsepnya dibalik di mana pesertalah yang menari bersama-sama. Peserta tampak antusias belajar menari lengkap dengan atribut sarung khas Bali.

Sekjen Apkasi Adnan Purichta Ichsan yang juga mengikuti penampilan Tari Kecak Revolution pun memberikan semangat kepada para peserta Bimtek dan Studi Tiru Desa Wisata angkatan pertama ini yang tampil aktif sebagai penari.

“Inilah kenapa kita memilih metode studi tiru dalam kegiatan kali ini, karena desa-desa lain tinggal meniru apa yang sudah baik dilakukan di Desa Carangsari, lalu diterapkan di daerah sesuai dengan kondisi lokal,” tutur Bupati Gowa ini sambil berharap para peserta setelah kembali nantinya bisa memanfaatkan kegiatan ini untuk pembekalan dalam mengembangan potensi desa di daerah masing-masing.

Kegiatan bimtek dan studi tiru yang berlangsung selama 3 hari ini terbilang sukses dan meninggalkan kesan yang mendalam. Salah satunya adalah Bupati Dairi, Eddy Berutu yang begitu terkesan dan bahkan ia pun berniat untuk menduplikasikan keberhasilan Desa Carangsari ini di daerahnya.

“Saya menantang Gusde sebagai inisiator Desa Wisata Carangsari untuk membuat satu desa wisata di Dairi. Kalau di Bali bisa maka saya yakin di Danau Toba harusnya juga bisa. Saya mengundang Gusde untuk datang ke sana dan pilih desanya untuk dijadikan sebagai desa wisata,” tukas Eddy Berutu penuh semangat. (hms-apkasi/erkoes)