Lalu gimana jika seandainya AA itu cuma martir aja? Sengaja disuruh pasang badan, dimajuin nemuin pendemo.Ketika dia digebukin, berarti skenario berhasil. Tinggal digiring narasinya. Tinggal dipecah-belah masyarakatnya.
Terbukti respons dari pihak istana begitu cepat, foto-foto terduga pengeroyok menyebar, lalu pernyataan Moeldoko, dan kemunculan Grace dari PSI dan sumber berita dari host TV Cokro yang mengatakan kedatangan AA untuk sebuah konten, dan AA sempat diwawancara bilang tidak sepakat dengan penundaan pemilu dan wacana 3 periode masa jabatan presiden. Serentak pascadigelarnya sinetron demo berikut dengan decoynya, sudah tentu meraup simpati banyak orang. Medsos selain dipenuhi gambar pantat dan pernyataan umat yang justru bersyukur mengingat selama ini AA dianggap melakukan adu domba dan dianggap menista agama. Di sisi lain dipenuhi kata-kata bijak filsafat humanisme, kemanusiaan dan HAM. Bahkan melalui salah satu influencer istana, tudingan anarkisme langsung diarahkan ke kadrun. Polarisasi itu dimulai dari kadrun cebong yang akhirnya AA jadi korban. Herannya DS tetep pakai istilah yang sama, dan itu artinya mempertahankan polarisasi. Tragis bener orang-orang ini.
Inilah yang terjadi kalau rasa keadilan masyarakat sudah tersakiti, walaupun cara-cara seperti ini mestinya tidak boleh terjadi, semoga menjadi pelajaran bagi kita semua terutama aparat penegak hukum agar tidak pilih kasih dalam menegakkan hukum.
Sekarang opini yang berkembang justru bukan pada demonya, tapi lebih kepada kekerasan dan anarkisnya. Opini-opini itulah yang kini bertarung dan ini penting digaribawahi agar demo mahasiswa tidak distigma sebagai demo yang disusupi, anarkis dan lain-lain.
Kita jadi kehilangan substansi tujuan demo mahasiswa, karena berita pemukulan AA lebih besar mendominasi media dibandingkan pemberitaan tuntutan mahasiswa di persoalan kerakyatan.
Ini proyek menguntungkan bagi polisi dan Setneg karena bisa berarti kenaikan anggaran, makin chaos, makin untung. Bagi oligarki, demo merupakan ancaman bagi stabilitas kapital mereka. Sudah pasti terbayang dalam kalkulasi mereka, berapa banyak kerugian yang akan mereka tanggung dengan terhambatnya atau kehilangan mesin kapital mereka. Tidak ingin kekuasaan yang manis lepas dari cengkeraman, apapun dilakukan, mereka rela mengeluarkan kocek yang tidak sedikit untuk membayar para centeng berikut gedibalnya demi mempertahankan kekuasaan, memperkokoh cengkeraman daan hegemoninya agar selamanya Indonesia sebagai jongos alias negara jajahan yang bisa dengan leluasa dikeruk sumber daya alamnya sekaligus pasar untuk melempar produk dan sampah industrinya.
Yang penting bagi pemilik hajatan, untuk sementara bisa bernafas lega dan bisa menyusun rencana busuk selanjutnya. Sementara masyarakat bahagia, karena orang yang dianggap public enemy sudah bonyok dihakimi massa, sedang kubu pro juga ayem karena junjungannya tak tersentuh sedikitpun, dan oligarki senang karena posisinya tak bergeser sesenti pun. (mda)
Kopi_kir sendirilah!
Penulis: Malika Dwi Ana, Social Politic Enthusiast, Freelance Writer.
