Jember, SonaIndonesia.com — Fakultas Pertanian Universitas Jember (FAPERTA UNEJ) terus menunjukkan komitmennya dalam penguatan ekonomi lokal dan pertanian berkelanjutan. Melalui Kelompok Riset (KeRis) CREAM (Centre of Research on Entrepreneurship and Agribusiness Management), Program Studi Agribisnis menggelar Program Pengembangan Desa Binaan (Probangdebi) di Desa Sabrang, Kecamatan Ambulu, Kabupaten Jember, Selasa (15/7/2025)
Program yang dimulai sejak 11 Mei 2025 ini mengusung semangat kolaborasi dan pemberdayaan masyarakat dengan menggandeng Kelompok Tani “Pancer Tani”. Tujuannya jelas: mendampingi petani dalam pengembangan usaha tani pembibitan hortikultura melalui pelatihan pembuatan pupuk organik cair (POC) berbahan lokal dan manajemen kelembagaan tani secara terpadu.
Ketua Program, Julian Adam Ridjal, menjelaskan bahwa Probangdebi menggunakan pendekatan Participatory Rural Appraisal (PRA) — sebuah model pembangunan partisipatif yang mengedepankan peran aktif masyarakat sejak perencanaan hingga evaluasi program.
“Kami ingin memastikan bahwa setiap intervensi benar-benar relevan dengan kebutuhan petani dan kontekstual dengan kondisi lokal,” ungkap Julian.
Salah satu fokus utama adalah pelatihan manajemen usaha tani pembibitan hortikultura. Petani diajak memahami pentingnya mutu benih dan teknik persemaian yang tepat agar hasil bibit lebih seragam, bebas penyakit, dan kaya unsur hara.
Dr. Evita Soliha Hani, Ketua KeRis CREAM, menekankan pentingnya fase pembibitan dalam rantai usaha hortikultura.
“Bibit yang unggul adalah kunci keberhasilan produksi. Pelatihan ini tidak hanya menyentuh sisi teknis seperti teknik persemaian dan pengendalian hama, tapi juga aspek manajerial dan analisis usaha tani,” terangnya.
Program ini juga membantu menjawab tantangan klasik petani pembibit yang selama ini masih bekerja secara individu. Ke depan, petani diharapkan dapat mengembangkan unit usaha bersama yang memperkuat distribusi bibit secara kolektif dan efisien.
Ketua Kelompok Tani “Pancer Tani”, Ari Wibowo, mengapresiasi pelatihan yang diberikan.
“Pendekatan sistem pertanian terpadu dengan penggunaan biofertilizer dan agen pengendali hayati benar-benar relevan dengan tantangan saat ini. Kami butuh sistem yang tidak hanya menghasilkan, tapi juga menjaga kesuburan tanah dan mengurangi ketergantungan pada bahan kimia,” ujarnya.
Ia menambahkan, sistem pertanian terpadu menggabungkan tanaman, ternak, mikroorganisme, dan limbah organik menjadi satu kesatuan produksi yang efisien dan saling mendukung. Pelatihan POC berbasis mikroba lokal menjadi salah satu terobosan dalam mendukung sistem ini.
Kepala Seksi Pemerintahan Desa Sabrang, Imam Muzaki, menyambut baik kehadiran UNEJ di wilayahnya.
“Program ini bukan hanya memberikan pengetahuan teknis, tapi juga menyentuh aspek kemandirian dan keberlanjutan. Masyarakat sangat antusias karena mereka merasakan manfaat langsung dari transfer ilmu yang dilakukan para dosen dan mahasiswa,” ujarnya.
Didukung oleh dana hibah dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UNEJ, Probangdebi tidak hanya menjadi proyek jangka pendek. Ia dirancang sebagai model pengembangan desa yang dapat direplikasi di daerah lain. Harapannya, Desa Sabrang menjadi contoh nyata bagaimana perguruan tinggi berkontribusi langsung bagi pembangunan masyarakat dari akar rumput.
“Kami ingin pertanian yang bukan hanya menghasilkan panen, tetapi juga menciptakan ketahanan ekonomi, ekologi, dan sosial. Probangdebi adalah langkah nyata ke arah sana,” pungkas Dr. Evita.
Program ini menjadi simbol kolaborasi antara akademisi, petani, dan pemerintah desa. Sebuah upaya kolektif untuk menumbuhkan desa yang tangguh, mandiri, dan berdaya saing dalam menghadapi tantangan pertanian masa depan. (salim)












