Etika Politik Jawa dan Syahwat Berkuasa

oleh -
oleh

Merasa seolah-olah bisa melakukan sesuatu yang hebat dan seolah yang lain lebih rendah. Ada baiknya untuk mawas diri dan senantiasa tahu diri akan keterbatasannya sebagai insan. Orang yang selalu merasa bisa, cenderung bersifat sombong tidak memiliki kepekaan rasa, sadar diri, dan menimbang kualitas diri. 

Mampukah saya membawa bangsa ini mencapai cita-cita luhur menuju kesejahteraan umum (well being), merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur? 

Sebaliknya, dengan biso rumongso, seorang pemimpin akan mendapat nilai lebih dan terhormat di masyarakat, karena dia dianggap sebagai orang yang rendah hati. Selain itu sifat-sifat tidak sombong dan cerdas mengukur diri justru akan meningkatkan kredibilitasnya di lingkungan yang ia pimpin.

Manusia seperti ini yang akan menikmati tenteramnya kehidupan, sebab pasti dia bisa menempatkan diri dengan baik di lingkungannya. Dalam falsafah lain yang memiliki kemiripan arti disebutkan; “Aja Keminter Mundak Keblinger, Aja Cidra Mundak Cilaka.” Artinya, jangan merasa paling pinter agar tidak salah arah. Jangan suka berbuat curang agar tidak celaka.

Soeharto adalah contoh lain presiden yang mengedepankan rasa malu dan sikap tahu diri, selain Soekarno Presiden pertama Indonesia yang legawa dilengserkan karena sadar inflasi yang sudah melebihi 500%.

Betapapun otoriter dan militeristiknya Soeharto. Atau betapapun narsisnya –one man show-nya Soekarno, keduanya rela mengundurkan diri dari jabatan presiden karena krisis politik dan resesi ekonomi yang telah menyengsarakan rakyat.

Demikianlah, sejarah memang bukan Panasea (obat ampuh untuk segala penyakit) dan tidak bisa dipake untuk menyelesaikan persoalan hari ini, tetapi dalam sejarah tersimpan pesan, tauladan dan hikmah kebijaksanaan yang berhubungan dengan rasa malu dan sikap tahu diri penguasa dalam mengelola kekuasaannya. 

Penulis: Malika Dwi Ana, Pemerhati sosial, tinggal di Ngawi, Jawa Timur.