OPINI: Malika Dwi Ana
Kongres PSI yang digelar pada 19-20 Juli 2025 di Solo, Jawa Tengah, menunjukkan perubahan signifikan dalam identitas partai. Awalnya dirumorkan akan diadakan di IKN, namun karena keterbatasan, Solo dipilih sebagai lokasi, yang notabene dekat dengan rumah mantan Presiden Jokowi.
PSI dalam kongres di Solo memperkenalkan logo baru, menggantikan mawar merah—simbol yang identik dengan ideologi progresif—dengan gajah berwarna hitam dan merah, disertai slogan “Partai Super Tbk”. Menurut mereka, Gajah melambangkan kekuatan dan keberanian, mencerminkan upaya rebranding PSI untuk tampil lebih tegas dan pragmatis. Namun secara spekulatif, saya berpandangan bahwa siluet kepala gajah merujuk pada jambul Kaesang, yang jika ditarik gambar ke bawah adalah siluet kepala Kaesang Pangarep. Ini menunjukkan persepsi bahwa perubahan ini erat kaitannya dengan pengaruh pribadi Kaesang. Jika pengamatan ini benar, maka pinter aja yang bikin logo, cukup gokil sih…

Pergeseran dari mawar merah dan warna merah dominan menandakan PSI ingin melepaskan citra idealis dan progresif yang sebelumnya menonjolkan aktivisme dan kampanye berbasis data. Logo baru dan slogan “Partai Super Tbk” (yang pernah digunakan Jokowi) menunjukkan keterkaitan erat dengan warisan politik Jokowi dan upaya menarik basis pemilih yang lebih luas dengan pendekatan populis.
Selain itu, menghapus mawar membantu PSI menjauh dari konotasi negatif sambil memperkuat aliansi dengan pemerintahan. Mawar merah sebagai logo lama PSI bisa membawa konotasi ganda. Secara historis, mawar sering dikaitkan dengan ideologi progresif atau sosialis, yang sesuai dengan citra awal PSI sebagai partai anak muda urban yang reformis. Namun, di Indonesia, istilah “Tim Mawar” merujuk pada unit Kopassus yang terlibat dalam penculikan aktivis pada 1997-1998, yang dikaitkan dengan Prabowo, meskipun keterlibatannya masih kontroversial dan tidak sepenuhnya terbukti secara hukum.
Menghapus logo mawar bisa diartikan sebagai upaya PSI untuk menjauhkan diri dari asosiasi negatif ini, terutama jika partai ingin mendekatkan diri ke Prabowo, yang kini menjabat sebagai presiden (2024-2029) bersama Gibran Rakabuming Raka, anak Jokowi, sebagai wakil presiden. Perubahan ini kemungkinan besar bukan hanya soal estetika, tetapi juga soal strategi politik. Dengan menghilangkan mawar, PSI bisa menghindari persepsi kelompok tertentu yang masih mengaitkan simbol tersebut dengan trauma masa lalu, sekaligus membuka ruang untuk membangun aliansi yang lebih erat dengan pemerintahan Prabowo-Gibran.
Pemilihan Solo sebagai lokasi kongres nampaknya juga bukan kebetulan. Solo adalah basis kuat PDI Perjuangan dan keluarga Jokowi, termasuk Kaesang, yang kembali terpilih sebagai Ketua Umum PSI. Ini memperkuat persepsi bahwa PSI semakin menjadi kendaraan politik yang terkait erat dengan “geng Solo” atau faksi yang dekat dengan Jokowi. Perubahan ini lebih tampak sebagai konsolidasi kekuatan di bawah kepemimpinan Kaesang, yang memanfaatkan momentum politik keluarga Jokowi untuk memperkuat posisi PSI, agar ke depan makin merapat pada Prabowo.
PSI tampaknya berupaya memperluas daya tarik elektoralnya dengan menjauh dari citra partai anak muda urban dan mendekatkan diri pada narasi nasionalis-populis yang terkait dengan Jokowi. Dominasi Kaesang dan keterkaitan dengan Solo menunjukkan bahwa faksi yang dekat dengan keluarga Jokowi memiliki pengaruh besar, tetapi bisa jadi ini merupakan kelanjutan dari tren sejak Kaesang menjadi ketua pada 2023.
Meski prosedur sesuai AD/ART tampaknya diikuti, tapi ada beberapa hal yang bisa memicu kontroversi atau potensi pelanggaran. Apakah itu? (mda)
Kopi_kir sendirilah!
*Catatan Kecil, 20 Juli 2025
Penulis: Malika Dwi Ana, Pengamat Sosial Politik.












