Jakarta, SonaIndonesia.com – Sebuah buku setebal 298 halaman, ditulis oleh Malika Dwi Ana dan Agung Marsudi. Duet dua penulis beda gaya ini menghasilkan 17, 8, 19, 45 tulisan, memaknai angka-angka proklamasi kemerdekaan. Sebagian besar menggambarkan kegelisahan seorang Malika terhadap dinamika politik di Indonesia, adalah lebih dari sekadar kumpulan kata. Ia adalah cerminan jiwa seorang pengamat yang peduli, sebuah warisan intelektual dan emosional yang ditujukan untuk anak cucu, sebagaimana hasrat kita untuk meninggalkan kenangan abadi melalui tulisan. Buku ini bukan hanya tentang politik, tetapi juga tentang hati yang resah, pikiran yang kritis, dan harapan untuk masa depan yang lebih baik.
Sedang 45 artikel tulisan Agung Marsudi lebih sebagai penyeimbang dari tulisan serius Malika, menjadi pemanis dan penyedap yang menggelitik, dengan jargon yang melekat di hati masyarakat “kuat dilakoni, ra kuat ditinggal ngopi..“
Kopitalisme menurut Agung, menawarkan kopi rasa nasionalisme, sebuah tradisi dan kehormatan yang dilupakan. Ia menyindir halus, kohesi politik kopi dan kapitalisme yang meminta “Americano” disuguhkan di meja istana, dan rapat-rapat paripurna. Padahal menurutnya, kopi tubruk, kopi joss, kopi klothok, kopi ireng guseng adalah kopi “Indonesiano”. Kopi terbaik milik bangsa sendiri.
Kopitalisme telah mengatur kontraksi, pahit getir ekonomi.
Kegelisahan Malika: Jantungan Politik Indonesia

Malika, penulis dalam buku ini, adalah representasi banyak warga Indonesia yang menyaksikan pergulatan politik negeri ini dengan campuran kekecewaan, harapan, dan semangat untuk perubahan. Dalam 298 halaman, bersama Agung Marsudi, Malika menuangkan kegelisahannya terhadap berbagai isu: korupsi yang menggerogoti kepercayaan publik, polarisasi yang memecah belah masyarakat, pembodohan publik, hingga janji-janji politik yang sering kali hanya tinggal angin surga. Setiap halaman mencerminkan kepekaan terhadap ketidakadilan, tetapi juga idealisme yang tak pernah padam.
Buku ini dimulai dengan pengamatan Malika tentang hiruk-pikuk pemilu, tentang tahun politik, dimana politik disempitkan maknanya ‘hanya soal pemilu’, suara rakyat sering kali terbelit dalam permainan kekuasaan. Ia menulis tentang bagaimana janji-janji manis para politisi menguap begitu mereka duduk di kursi kekuasaan, meninggalkan rakyat dengan harapan yang bak angin surga. Namun, Malika tidak hanya meratap. Ia mengajak pembaca untuk merenung: bagaimana kita, sebagai masyarakat, bisa berkontribusi untuk menciptakan politik yang lebih bersih dan bermartabat.
Mengapa Kegelisahan Ini Penting?
Buku ini menjadi relevan karena ia tidak hanya berbicara tentang masa kini, tetapi juga tentang masa depan. Malika menulis untuk anak cucunya, agar mereka memahami konteks sejarah politik Indonesia, belajar dari kesalahan masa lalu, dan terinspirasi untuk menjadi agen perubahan. Dalam setiap bab, ia sering menyisipkan cerita pribadi, anekdot tentang perjuangan rakyat kecil, atau bahkan humor pahit tentang absurditas politik—semua demi membuat pembaca merasa terhubung secara emosional.
Kegelisahan Malika bukan sekadar luapan emosi, tetapi sebuah panggilan untuk kesadaran. Dalam tulisannya, ia mungkin menggambarkan bagaimana politik Indonesia sering kali menjadi panggung drama, dimana kepentingan pribadi dan kelompok mengalahkan kepentingan publik. Namun, di balik kritiknya, ada keinginan kuat untuk melihat Indonesia yang lebih baik—sebuah negeri yang menjunjung keadilan, transparansi, dan kesejahteraan bersama.
Warisan untuk Anak Cucu
Seperti banyak ungkapan, harta benda bisa lenyap, tetapi tulisan adalah warisan yang abadi. Buku Malika adalah bukti nyata dari gagasan ini. Dengan 298 halaman, ia tidak hanya meninggalkan catatan tentang kegelisahannya, tetapi juga harapan bahwa generasi mendatang akan memiliki keberanian untuk mempertanyakan, mengkritik, dan memperbaiki sistem politik yang mereka warisi. Ia ingin anak cucunya membaca dan merasakan bahwa, meski politik sering kali penuh dengan kekurangan, ada ruang untuk perubahan jika ada kemauan untuk berjuang.
Bayangkan seorang cucu, bertahun-tahun dari sekarang, membuka halaman-halaman buku ini. Ia mungkin tersentuh oleh semangat Malika, terinspirasi oleh keberaniannya untuk bersuara, dan termotivasi untuk ikut berkontribusi demi Indonesia yang lebih baik. Buku ini menjadi jembatan yang menghubungkan Malika dengan generasi yang belum pernah ia temui, sebuah cara untuk terus hidup dalam pikiran dan hati mereka.
Sentuhan Emosional dalam Tulisan
Apa yang membuat buku ini menyentuh adalah kejujuran Malika dalam mengekspresikan kegelisahannya. Ia tidak berpura-pura memiliki semua jawaban, karena seringkali menyertakan jargon khasnya: kopi_kir sendirilah! Sebagai tanda bahwa pembaca bebas untuk tidak setuju dengan berbagai opini yang ditulisnya. Setidaknya ia berani mengajak pembaca untuk ikut merasakan beban yang ia pikul sebagai warga negara yang peduli. Ada pesan tersirat agar mereka tidak pernah menyerah pada idealisme, meski dunia politik sering kali mengecewakan. Atau, ada bab yang menceritakan momen ketika Malika menyaksikan demonstrasi rakyat, dengan hati penuh harap sekaligus cemas, lalu berusaha menganalisis apa di baliknya.
Tulisan Malika adalah cerminan dari cinta—cinta pada negeri ini, pada rakyatnya, dan pada generasi mendatang. Ia menulis bukan untuk mengeluh, tetapi untuk mengabadikan semangat perjuangan, agar anak cucunya tahu bahwa perubahan dimulai dari kesadaran dan keberanian untuk bersuara.
Penutup: Warisan yang Menggugah
Buku setebal 298 halaman ini adalah lebih dari sekadar catatan tentang politik Indonesia. Ia adalah warisan kegelisahan, harapan, dan cinta dari seorang Malika untuk anak cucunya. Melalui tulisannya, Malika mengajak kita semua untuk tidak hanya menjadi penonton dalam panggung politik, tetapi juga pelaku yang berani bermimpi dan bertindak demi masa depan yang lebih baik. Seperti ungkapan bahwa, harta benda mungkin tak cukup, tetapi sebuah buku—dengan segala kegelisahan dan kepekaannya—adalah warisan yang akan terus hidup, menginspirasi, dan menyentuh hati lintas generasi.
Malawu Creative Suites
Ngawi, 15 Agustus 2025











