Jember, SonaIndonesia.com – Bukan rahasia lagi bahwa pakan menjadi beban berat pelaku usaha perikanan air tawar sebab separuh lebih biaya berasal dari pakan. Oleh karena itu, Dinas Perikanan Pemkab Jember menggelar pelatihan pakan alternatif jenis larva maggot di Aula Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan, Pemkab Jember pada Selasa (16/9).
Pelatihan bertujuan untuk menurunkan pengeluaran biaya pakan agar para pelaku usaha bisa mendapatkan keuntungan maksimal. Para pelaku usaha diajak menggunakan pakan alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada pakan pabrik.
Kegiatan diikuti oleh puluhan peserta dari para pelaku usaha air tawar dalam Kelompok Pembudidaya Ikan (POKDAKAN), misalnya usaha ikan gurami, nila dan ikan lele. Acara dibuka oleh Kepala Dinas Perikanan, Sugiyarto dan anggota Komisi B DPRD Jember, Nilam Noor F. Wulandari.
“Kita berbagi pengetahuan, guna mengurangi ketergantungan terhadap pakan pabrik yang harganya terus mengalami kenaikan tiap tahun, sedang panen ikan harganya tidak sebanding bahkan tidak sedikit mereka yang merugi,” kata Sugiyarto.
Dia menambahkan, saat ini kebutuhan lauk pauk dari ikan air tawar di Jember bisa saja mengalami kenaikan karena serapan dari progam makan bergizi gratis (MBG). Sehingga perlu terobosan untuk meningkatkan produksi ikan air tawar salah satunya dengan pelatihan pakan alternatif.
“Kita meyakini dengan pakan alternatif, nanti diharapkan bisa meningkatkan gairah pembudidaya ikan untuk meningkatkan produksi karena harapannya bisa mengurangi ongkos pakan pabrikan. Sehingga tidak terjadi inflasi karena harga ikan naik akibat karena kekurangan stok panen ikan,” jelasnya.
Anggota DPRD Jember dari Golkar, Nilam Noor F. Wulandari menyampaikan apresiasinya kepada Dinas Perikanan Jember yang menyelenggarakan pelatihan pakan alternatif tersebut.
“Kita mendukung progam menguatkan ekonomi rakyat, dalam hal ini perikanan di Jember. Harapan kita, kegiatan ini bisa meningkatkan keahlian pembudidaya ikan, sehingga mendatang mereka produksinya semakin kompetitif, bisa bersaing dengan daerah lainnya,” jelas Nilam.
Bertindak selaku pemateri utama dalam kegiatan tersebut adalah Jajat Darmawan, pembudidaya maggot dari kelompok tani Tirto Wangi dari Desa Sukamakmur, Kecamatan Ajung, Kabupaten Jember.
“Pertama yang kita perhatikan bahwa maggot berbeda dengan belatung. Maggot biasanya kita dapatkan dari serangga yang menyukai buah yang baunya menyengat,” kata Jajang sambil menunjukkan serangga dimaksud dalam botol. Selain itu ditampilkan juga gambar belatung dan maggot agar para peserta memahami perbedaannya.
Menurut Jajang, membudidayakan maggot cukup mudah, pakannya juga tersedia di sekitar kita di antaranya sisa-sisa sayuran.
“Kalau kelompok kita, memanfaatkan sisa-sisa sayur seperti kubis dan sawi di Pasar Tanjung, kalau peserta ingin memulai dalam bisa memanfaatkan sisa-sisa sayur dapur rumah tangga di pemukiman dan atau perumahan masing-masing. Siklus panenannya cukup cepat, yakni sampai 18 hari.
Lebih dari itu, lanjut Jajat, maggot akan menjadi serangga, bertelur dan kemudian mati, begitu seterusnya siklusnya.
Kemudian Jajat menjelaskan kebutuhan usaha maggot untuk skala bisnis yang menghabiskan biaya sekitar enam juta rupiah.
“Ini potensinya bisa menghasilkan 750 kilogram maggot dalam 15 hari. Tetapi jika ingin mulai bisa dari modal Rp100.000, seperti kelompok kita dulu mulai dari modal sebesar itu,” tambahnya.
Menanggapi pelatihan ini, salah satu peserta Dodik menyampaikan pendapatnya, pelatihan tersebut penting untuk terus mencari terobosan agar para pelaku usaha perikanan bisa lebih menghemat pengeluaran biaya untuk pakan.
“Perlu dicari, perlu dicoba terus agar mendapatkan solusi pakan alternatif yang bisa meningkatkan produksi ikan tawar akan tetapi tetap menghasilkan,” harapnya. (salim)












