Oleh: Malika Dwi Ana
Pax Americana—atau “Damai Amerika”—bukanlah era kedamaian mulia seperti yang sering digambarkan dalam narasi resmi Barat. Ia adalah hegemoni telanjang yang dibungkus retorika liberal: dominasi Amerika Serikat pasca-Perang Dunia II yang menjamin “stabilitas” global melalui kekuatan militer, dolar sebagai mata uang cadangan dunia, aliansi seperti NATO, dan institusi seperti IMF serta Bank Dunia. Namun, stabilitas itu selalu bersyarat: damai bagi yang tunduk, dan kekacauan bagi yang menolak—dari Vietnam hingga Irak, dari Libya hingga Afghanistan.
Pada 2026, era ini semakin mengalami titik jenuhnya. Kebijakan “America First” Donald Trump mempercepat prosesnya dengan unilateralisme arogan dengan ancaman keluar NATO, tarif tinggi terhadap sekutu, serangan militer ke Venezuela, dan narasi yang menolak peran AS sebagai “polisi dunia”. Di sisi lain China bangkit melalui Belt and Road Initiative, Rusia bertahan di Ukraina, BRICS+ menjadi alternatif nyata—multipolaritas bukan lagi prediksi, melainkan kenyataan.
Di tengah kemunduran ini, ekspos Epstein files—yang dirilis lebih dari tiga juta halaman oleh Departemen Kehakiman AS pada akhir Januari 2026—bukan penyebab langsung, tetapi simbol paling memalukan dari keruntuhan moral Pax Americana. Dokumen tersebut tidak sekadar mengungkap jaringan trafficking, pesta amoral, dan dugaan kompromat—ia membongkar kemunafikan inti hegemoni Barat: elite yang selama puluhan tahun mengklaim superioritas nilai moral (demokrasi, hak asasi manusia, supremasi hukum) ternyata terlibat dalam eksploitasi seksual sistematis terhadap anak di bawah umur, jaringan lintas negara, dan dugaan operasi intelijen (Mossad melalui Ghislaine Maxwell, serta bayang-bayang CIA).
Tidak ada kaitan langsung antara ekspos file dengan kemunduran Pax Americana, tapi secara simbolis sangat berkaitan:
- Elite Barat yang Ekspos Sendiri
Hampir semua nama besar yang muncul berasal dari “blok sekutu”: Donald Trump (ribuan kali), Bill Clinton, Bill Gates, Elon Musk, Pangeran Andrew, Ehud Barak. Tidak ada Vladimir Putin, Xi Jinping, atau Kim Jong-un secara signifikan. Bukan karena mereka “bersih”, melainkan karena jaringan Epstein adalah produk internal Barat—terpusat di New York, Palm Beach, London, dan Paris. Ini bukan konspirasi global, melainkan korupsi internal yang terbongkar tepat ketika hegemoni sedang melemah. - Deep State atau Sekadar Pembusukan Elite?
Teori Deep State menjadi populer karena redaksi tinta hitam yang tebal dan penundaan rilis. Namun logikanya, jika ada “cabal” yang mengendalikan segalanya, mengapa mereka membiarkan jutaan halaman ini bocor? Lebih realistis lagi adalah ini pembusukan dari dalam. Elite Barat saling ekspos karena perebutan kekuasaan, ego, atau sekadar kelalaian. Trump menandatangani Epstein Files Transparency Act, tapi dituduh menunda demi melindungi diri. Demokrat menyerangnya, Partai Republik (GOP) saling tuding. Mengakibatkan kepercayaan publik terhadap institusi AS anjlok, dan soft power hancur. - Kemunafikan Moral sebagai Katalis
Pax Americana menjual narasi “kami lebih baik secara moral”. Epstein files membuktikan sebaliknya: elite yang mempromosikan hak asasi manusia dan demokrasi ternyata menikmati kekuasaan tanpa batas, tanpa kontrol. Ini bukan akhir damai, melainkan akhir ilusi superioritas moral Barat—yang selama ini menjadi alasan legitimasi dominasi AS.
Ekspos ini bukanlah keadilan sejati. Korban tetap korban, keadilan hukum mandek (“no new charges”), sementara publik disuguhi drama partisan. Pax Americana mundur bukan karena Epstein, melainkan karena kemunafikan seperti ini sudah terlalu banyak—dan dunia sudah muak. Multipolaritas bukan utopia, tetapi setidaknya tidak lagi dibungkus kemunafikan yang sama.
Bagi Indonesia, ini peluang besar untuk multi-alignment dan diplomasi bebas aktif yang lebih mandiri. Namun, jangan berharap Pax Americana runtuh karena “kebenaran terungkap”. Ia runtuh karena kejenuhan, kelelahan, dan penolakan. Epstein files hanyalah tanda terima terakhir dari hegemoni yang sudah lama busuk dari dalam.
Jakarta, 7 Februari 2026












