Oleh : Malika Dwi Ana
Joko Widodo kembali menggelar “tour of campaign” yang terasa akrab di telinga. Ia menghidupkan lagi gaya politik humanistik yang dulu mengantarkannya masuk ke Ring 1 kekuasaan. Bedanya, kali ini yang dibangun bukan citra diri untuk pencalonan ulang, melainkan citra yang bisa dipinjam putranya, Gibran Rakabuming Raka.
Dulu, Jokowi memasarkan dirinya secara murni: nyemplung ke got, kemeja putih seharga seratus ribu, sepatu murah, bagi-bagi buku, atau duduk bersarung di tepi kolam ikan saat senja. Kini ia sibuk membranding ulang sosoknya. Bukan untuk dirinya, melainkan agar menjadi “alat pansos” yang kuat bagi Wakil Presiden. Jokowi nampaknya sadar betul bahwa Gibran masih sulit “dijual” secara politik.
Salah satu bukti nyata adalah kunjungannya ke Lampung pada 26–28 Juni 2026. Agenda utamanya safari politik dan blusukan ke sejumlah wilayah: Bandar Lampung, Lampung Tengah, Lampung Timur, Pringsewu, dan daerah sekitarnya. Ia menemui warga, mendatangi sentra UMKM di Kotagajah, serta berinteraksi langsung dengan relawan. Sambutan antusias warga di Lampung Tengah terekam jelas dalam berbagai video yang beredar.
Pola yang sama berulang di tempat lain. Jokowi wara-wiri menemui kelompok masyarakat adat dan diangkat sebagai tokoh kehormatan dalam berbagai upacara ritual simbolis—tidak hanya di Jawa, melainkan menyeberang ke Lampung, Deli, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Papua, hingga Tidore. Gerakan diam-diam ini membangun klaim politik yang luas: bahwa dirinya diterima dan diakui oleh komunitas adat serta penerus kerajaan-kerajaan Nusantara.
Pada 29 Agustus 2026, di peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Haul ke-8 KH Musyaffa’ Ali di Pondok Pesantren Al-Falah, Kebumen, Jawa Tengah, Jokowi berbicara tentang kekuasaan. Ia mengingatkan bahwa jabatan dan kewenangan adalah amanah yang tidak berlangsung selamanya. Karena itu, kekuasaan tidak boleh disalahgunakan, tidak boleh dipakai untuk menindas atau menjatuhkan orang lain. Seorang pemimpin, katanya, juga tidak boleh berkata-kata kasar kepada rakyatnya.
Kalimat-kalimat itu terdengar akrab. Di balik senyum manis misterius yang selalu tersungging, sarkasme yang tersirat sulit disangkal. Jokowi menyampaikan semuanya dengan tenang, dan seolah menutup telinga dari cemoohan netizen.
Ini bukan sekadar kampanye “Begawan of the Year”. Jokowi memang sedang memosisikan dirinya sebagai Begawan. Label itu kelak, ketika Gibran mencalonkan diri sebagai Presiden, diharapkan sudah tertanam di alam bawah sadar akar rumput: “Bapaknya saja begitu—sopan, murah senyum, tidak ndas-ndasan, diakui eksistensinya oleh komunitas adat, dan bijaksana.” Branding itu digempur lewat publisitas media yang tiada henti.
Ditambah kekuatan modal di belakang PSI, kombinasi ini cukup membuat Prabowo dan Gerindra harus berhitung ulang. Jika ada niat untuk menyingkirkan atau meminggirkan Gibran, perhitungan politiknya kini menjadi jauh lebih mahal.
Jokowi tidak sedang bermain untuk hari ini. Ia sedang menanam citra untuk 2029—dan Gibran adalah taruhan utamanya.(Mda)
Badung, 8 September 2026
