Jember, SonaIndonesia.com – Terobosan baru dalam menghadapi masalah anak telah diciptakan oleh Suar Indonesia Jember. Terobosan tersebut dikemas dalam bentuk karya sastra bertajuk “Nadzam Al-Injiabia” yang telah diperkenalkan di sejumlah sekolah menengah. Hal itu terungkap dalam kegiatan sosialisasi bertema “Diseminasi Nadzam Al-Injiabia dan Mini Riset Kekerasan di Lingkungan Sekolah” di Aula Bakorwil V Jember pada Jumat (18/7).
Kegiatan sosialisasi dengan target puluhan peserta khusus tersebut menghadirkan dua pemateri dari akademisi, yaitu Dr. Shoni Rachmatullah (Universitas Islam Negeri KH. Achmad Siddiq) dan Ni’ma Baroya, S.KM., M.PH (Universitas Jember), dan penyanggah Prof. Dr. Mukni’ah dari Universitas Islam Negeri KH. Achmad Siddiq.
“Karya ini memberikan salah satu solusi pendidikan terhadap masalah anak mulai dari kekerasan, pembulian, perkawinan anak, termasuk kekerasan seksual melalui pendekatan religius, dan budaya. Karena ada huruf pegonnya (maka karya ini) lebih dekat di kalangan pondok pesantren,” ungkap Shoni Rachmatullah.
Masih menurutnya, Nadzam Al-Injiabia ini bisa masuk dalam kurikulum dan menjadi mata pelajaran yang bisa disampaikan oleh guru/pendidik.
Nadzam Al-Injiabia ini merupakan terobosan pendekatan yang ditulis oleh M Alfin Mudatsir Nuril Qomar, salah satu tenaga pendamping Suar Indonesia, dengan pengarah substansi Dzulqornain dan Budiman Widyanarko.
Terdiri dari delapan bab dan mukadimah, karya ini berisi bait-bait syair sebagaimana layaknya nadzam pada umumnya. Misalnya tentang memahami emosi tertulis bait “Aku sedih saat tidak dihargai, Aku malu saat salah tak kuakui”.
Kehadiran nadzam ini dilatarbelakangi keinginan untuk menyampaikan materi Pendidikan Kesehatan Reproduksi dan Seksualitas (PKRS). Namun agar mudah diterima masyarakat, maka digunakanlah pendekatan melalui karya seni dan budaya.
Berdasarkan hasil penelitian kecil (mini riset) yang dilakukan oleh Ni’ma Baroya selaku konsultan, di daerah program yakni Kecamatan Silo dan Kecamatan Ledokombo Jember, diperoleh kesimpulan bahwa 50 persen lebih responden dari total target Nadzam Al-Injiabia, (siswa setingkat SMP) pernah menerima perlakukan aneka ragam kekerasan dan pembulian. Responden berjumlah 155 anak dari total populasi siswa yang diteliti, diketahui pelakunya adalah orang dekat, teman dekat, bahkan sebagian adalah guru, sosok yang seharusnya menjadi teladan.
“Meskipun jumlah (pelaku) guru sedikit namun ini adalah krisis karena sosoknya adalah teladan,” papar Ni’ma Baroya.
Terobosan dan hasil riset tersebut mendapatkan masukan dari Prof. Mukni’ah, selaku penyanggah. Peserta sosialisasi juga turut memberikan berbagai pengalaman, pengetahuan serta pandangannya.
Namun ada hal menarik yang disampaikan oleh para peserta, yakni mereka mengapresiasi karya tersebut, dan setuju agar pihak Suar Indonesia segera mendaftarkan karya ini sebagai hak kekayaan intelektual (HAKI).
“Kesimpulan dalam kegiatan ini sementara kita catat, selain didaftarkan HAKI, yakni butuh tindak lanjut oleh Dinas Pendidikan Jember, Kemenag Jember, sosialisasi ke sekolah-sekolah, dan mencari bentuk yang sesuai dengan kebutuhan sekolah (dari Nadzam Al-Injiabia),” ujar Budiman Widyanarko, selaku Progam Officer Suar Indonesia. (salim)
