Conflict is Protection Oil Flow

oleh -
oleh

Di Myanmar dulu juga awalnya baik-baik saja di bawah Junta Militer. Namun ketika tahun 2004 ditemukan gas bumi di Shwe (Emas) Blok A1-Teluk Bengal, dengan prakiraan deposit gas mencapai 5,6 triliun kubik yang tidak akan habis dieksploitasi hingga 30 tahun, maka semenjak itulah bentangan lantai sepanjang 1.500 km antara teluk Bengal – Batas laut Andaman, Thailand menjadi incaran negara-negara besar seperti China, Rusia dan USA, dan Eropa – Frances.

Unjuk rasa menolak kehadiran perusahaan tambang Freeport. [Foto: liputan6.com]

Retorika sederhananya, mungkinkah Suriah bergejolak jika ia hanya penghasil gaplek? Seandainya Thailand hanya penghasil transgender cantik, apakah juga bakalan diincar negara-negara adidaya dunia? Atau jika Afghanistan hanya produsen karpet, apakah NATO juga akan mau berekspansi ke sana, atau jika Irak cuma penghasil kebab, apakah bakal ada isu senjata pemusnah massal di negeri 1001 malam itu? 

Narasi-narasi di atas sangat bisa untuk diterapkan dalam membidik konflik-konflik lokal di Tanah Air. 

Logika sederhananya, jika laut Natuna Utara hanya berlimpah ikan kakap, apakah berlapis-lapis armada laut China bakal menyerbu ke sana?

Atau seandainya Papua cuma penghasil koteka, ubi dan keladi, apakah akan ada KKB di Pulau Cendrawasih?

Pun dengan yang terjadi di Blok Wabu, Intan Jaya, Papua. Konon deposit emas di blok tersebut melebihi deposit di tambang Grasberg/Freeport Ind, 8,1 juta ton. Dan dalam senyap, para elit kekuasaan di Jakarta melakukan konsesi-konsesi untuk mengeksplorasi gunung emas di Blok Wabu yang adalah hak ulayat milik tujuh suku Papua dimana hingga kini tidak dibangun fasilitas jalan di sana, hampir tidak ada sarana kesehatan dan pendidikan memadai, sehingga masyarakat sana tidak well informed, well educated dan seterusnya. Mereka hidup terbelakang, miskin dan bodoh, mudah kena tipu-tipu, mudah dihasut, dipersenjatai agar senantiasa berkonflik antarsuku, antar kelompok, konflik versus pendatang dan aparat keamanan. Begitu terus hingga habis para elit yang “kemaruk” dan serakah itu mengeruk gunung emas dan merusak ekosistem di sana.

Demikianlah gambaran betapa konflik itu diciptakan demi melindungi aliran minyak dan memblokade pihak lain atas aliran minyak tersebut, “conflict is protection oil flow and blockade somebody else oil flow!” 

Kopi_kir sendirilah!

Penulis: Malika Dwi Ana, Pengamat Sosial, Politik, Budaya dan Sejarah.