Demo Plat Merah

oleh -
oleh

Sebelumnya sudah dikondisikan bermunculan video-video lawas mahasiswa pendemo digebukin, dan kita secara tidak disadari telah ikut menyebarkan. Padahal itu adalah propaganda demi menyokong terjadinya sinetron kemaren. Soal propaganda, PKI mah jagonya propaganda. “Sebarkan Kebohongan terus-menerus, maka lama-lama kebohongan akan dianggap sebagai kebenaran.” (Joseph Goebbels).  

Apa tujuannya? 

Yakni biar publik beranggapan bahwa demo mahasiswa disusupi, demo mahasiswa anarkis, selain juga bertujuan menyasar kelompok yang selama ini diindikasi sebagai Radikal, alumni 212 salah satunya yang ditengarai hendak diberikan tindakan represif lanjutan. 

Target besarnya adalah memisahkan demo mahasiswa dengan demo masyarakat. Sehingga gerakan mahasiswa akan menjadi kekurangan energi rakyat, dan lalu isu tiga periode akan tetap lempeng. 

Ilustrasi Demo.

Saat sas-sus demo mahasiswa akan dilakukan, Presiden langsung rapat, lalu bikin pernyataan menegaskan pemilu tidak ditunda. Lucu, seperti sibuk nutup kotoran yang ditimbulkan sama menteri-menterinya sendiri. Meskipun dalam kesempatan Rapat Terbatas tanggal 10 April 2022 itu Presiden Jokowi mengatakan, “Jadwal Pemilu tidak berubah”. Tapi siapa yang percaya? Bagaimana bisa percaya mulut yang terbiasa suka berbohong? Mulut mengatakan taat konstitusi. Di saat yang sama inner circle dan relawannya bergerak untuk 3 periode dan enggak ditindak. Terlalu banyak jejak kebohongan untuk bisa dipercaya. Presiden bilang jangan bicara 3 periode. Tapi jika oligarki Taipan ngotot, DPR ngebet, Luhut mupeng, 3 periode tetap akan jalan. 

Yang jelas demi melemahkan dan memecah belah kekuatan perlawanan mahasiswa dan oposisi, selain mencitrakan bahwa demo mahasiswa itu telah disusupi, anarkis dan oposisinya bengis itu menggunakan buzzer istana dan media-media mainstream yang menjadi mesin politik rezim tentunya. Setelah usaha melempar wacana, para relawannya melakukan konsolidasi, deklarasi kebulatan tekad, lalu gerilya dengan aneka spanduk 3 periode di pelosok-pelosok daerah, sampai Luhut dan Jokowi pun hadir dalam acara deklarasi APDESI (Asosiasi Kepala Desa Seluruh Indonesia) yang menuai protes keras dari sejumlah elemen mahasiswa dan netizen. Maka kemudian disusunlah skenario demo, selain sebagai pemoles citra (seolah-olah) demokratis, sekaligus memasang umpan, jebakan untuk memancing kemarahan umat yang mereka indikasikan sebagai radikal. Salah satu tokoh buzzernya yang paling dibenci dipasang, kemudian umpan dianiaya oleh temannya sendiri untuk provokasi, lalu ditelanjangi entah oleh siapa, namanya juga decoy. Karena risiko berada di tengah-tengah aksi demonstrasi itu hanya ada dua; digebukin aparat keamanan atau digebukin demonstran.