Krisis Air Bersih di Pamekasan: Kala Wartawan Turun Tanggan Bagikan Air dan Jeriken untuk Warga

oleh -
oleh

Kekeringan panjang kembali mencekik warga Pamekasan. Di tengah sumur yang mengering, para jurnalis lokal yang tergabung dalam PIJP tak cuma mengabarkan duka, tetapi juga langsung membagikan air bersih.

PAMEKASAN, Sona Indonesia — Debu tipis mengepul saat armada tangki air bergerak pelan memasuki Dusun Pos, Desa Tlanakan, Kecamatan Tlanakan, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur. Di tepi jalan, warga sudah bersiap membawa timba, ember, hingga wadah seadanya.

​Kekeringan panjang tahun ini kembali memukul sejumlah wilayah di Pamekasan. Sumber mata air warga mengering perlahan, menyisakan tanah retak dan kecemasan harian akan kebutuhan paling mendasar: air bersih.

​Melihat kondisi tersebut, Paguyuban Insan Jurnalis Pamekasan (PIJP) kembali bergerak. Tidak hanya berbekal pena dan kamera untuk mengabarkan krisis, para wartawan ini turun langsung membawa armada tangki berisi air bersih gratis, lengkap dengan pembagian jeriken untuk warga setempat.

​Senyum Lega Miza di Tengah Terik Tlanakan

​Bagi Miza, salah satu warga Dusun Pos, bantuan air bersih dan jeriken ini bak oase di tengah impitan kemarau. Kehadiran tangki air tersebut menyuntikkan rasa lega yang luar biasa.

​”Bantuan ini sangat bermanfaat buat kami, terutama untuk ibadah, makan, minum, dan kebutuhan sehari-hari. Ditambah ada pembagian jeriken, jadi kami punya wadah yang layak untuk menyimpan air,” ungkap Miza dengan wajah sumringah.

​Bagi warga terdampak, bantuan ini bukan sekadar urusan literan air yang ditumpahkan ke jeriken, melainkan wujud kepedulian nyata yang meringankan beban hidup harian mereka. Miza pun mendoakan agar aksi kepedulian tersebut membawa keberkahan bagi semua pihak yang terlibat.

​Bukan Sekadar Berita, Jurnalis Ambil Peran Sosial

​Aksi sosial yang berlangsung pada Sabtu (12/9/2026) ini merupakan penyaluran tahap ketiga yang digalang oleh PIJP. Ketua PIJP, Sujak Lukman, menegaskan bahwa aksi kemanusiaan ini tidak berhenti di Tlanakan saja. PIJP berencana memperluas jangkauan bantuan secara bertahap ke kecamatan lain yang masih terisolasi dari akses air bersih.

​”Atas nama Paguyuban Insan Jurnalis Pamekasan, kami menginisiasi kegiatan ini dan akan melanjutkannya secara bertahap ke kecamatan lainnya,” ujar Sujak.

​Menurut Sujak, kepedulian insan pers tak boleh berhenti pada deretan bait berita. Dalam situasi darurat, pers harus hadir secara fisik untuk memeluk hangat masyarakat yang sedang kesulitan.

​Mendorong Solusi Permanen dari Pemkab Pamekasan

​Kendati demikian, PIJP menyadari betul bahwa bantuan tangki air dan jeriken hanyalah “obat penawar sementara”. Krisis air bersih di Pamekasan adalah masalah tahunan yang terus berulang dan membutuhkan solusi mendasar.

​”Bantuan ini sifatnya darurat. Persoalan krisis air yang terjadi setiap tahun tidak bisa diselesaikan hanya dengan membagikan air saat kemarau tiba. Harus ada langkah jangka panjang dan terencana agar masyarakat tidak terus-menerus bergantung pada bantuan,” tegas Sujak.

​Sujak berharap Pemerintah Kabupaten Pamekasan melalui dinas terkait segera menyusun skema sistematis dan berkelanjutan—seperti pembangunan infrastruktur saluran air atau pembuatan sumur dalam berbasis wilayah rawan.

​PIJP memastikan akan terus menjalankan fungsi kontrol sosialnya. Media akan mengawal setiap kebijakan pemerintah daerah sekaligus terus menyuarakan kondisi riil masyarakat di lapangan, demi memastikan Pamekasan benar-benar terbebas dari ancaman krisis air tahunan. (Dhen – bei)