Oleh: Junaedy Alfan
Ketertarikan saya terhadap dunia teknologi informasi dimulai sejak masa nyantri pada tahun 1992. Saat itu saya memiliki komputer XT dengan monitor hitam putih dan media penyimpanan berupa disket, pada masa ketika hard disk bahkan belum menjadi perangkat yang umum digunakan.
Saya tidak hanya belajar mengoperasikannya, tetapi juga membongkar, memasang, dan mempelajari cara kerjanya hingga benar-benar memahami teknologi tersebut dari dalam.
Perjalanan itu berlanjut pada tahun 2014 ketika saya mendirikan Kampung IT di Solo sebagai lembaga pendidikan berbasis teknologi. Pemikiran mengenai peradaban kemudian semakin mengkristal setelah perjumpaan saya dengan almarhum Prof. Syed Muhammad Naquib Al-Attas dari Malaysia.
Sejak saat itu, IT, pendidikan, dan peradaban menjadi tiga bidang yang selalu menjadi platform pemikiran saya. Seluruh tulisan, penelitian, dan aktivitas yang saya lakukan hampir selalu berputar di sekitar tiga tema tersebut.
Satu Simpul yang Saling Mengunci
Hari ini, IT, pendidikan, dan peradaban bukan lagi tiga hal yang berdiri sendiri. Ketiganya telah menjadi satu simpul yang saling menguatkan sekaligus saling menentukan.
Jika dianalogikan, IT adalah listriknya, pendidikan adalah kabelnya, dan peradaban adalah cahaya yang dihasilkan. Tanpa salah satu di antaranya, cahaya itu tidak akan pernah menyala.
Hubungan ketiganya bukan lagi hubungan pilihan, melainkan sebuah keniscayaan.
IT Menjadi Mesin Penggerak Zaman
Teknologi informasi telah mengubah hampir seluruh cara manusia hidup, belajar, bekerja, dan berinteraksi.
Laporan International Telecommunication Union (ITU) tahun 2023 menunjukkan sekitar 5,4 miliar penduduk dunia telah terhubung ke internet. Artinya, lebih dari dua pertiga populasi global kini hidup di dalam ekosistem digital.
Di Indonesia, data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan tingkat penetrasi internet telah melampaui 78 persen populasi.
Apa arti angka tersebut?
IT bukan lagi sekadar alat bantu. Ia telah berubah menjadi lingkungan hidup kedua bagi manusia modern.
Jika dahulu manusia hidup di hutan fisik, kini manusia hidup di belantara digital. Di dalamnya terdapat algoritma, kecerdasan buatan, data, media sosial, dan berbagai teknologi yang membentuk cara manusia berpikir serta bertindak.
Dalam belantara digital itu, mereka yang paling cepat belajar dan beradaptasi tidak hanya akan bertahan, tetapi juga akan memimpin bahkan menguasai perubahan.
IT hari ini telah menjadi air bagi kehidupan modern, sebagaimana air adalah kehidupan bagi ikan.
Pendidikan Menentukan Arah Teknologi
Namun teknologi hanyalah alat.
Jika IT adalah mesin, maka pendidikan adalah sopirnya.
Tanpa pendidikan yang baik, teknologi dapat melaju tanpa arah dan menabrak apa pun yang ada di hadapannya.
Pemikiran inilah yang melatarbelakangi pendirian Islamic Digital Boarding College (IDBC) yang kini bertransformasi menjadi Elfan AI Academy.
Tujuannya sederhana tetapi mendasar, yaitu ikut menentukan arah perkembangan teknologi agar tidak berubah menjadi predator yang justru merusak manusia.
UNESCO bahkan telah menempatkan literasi digital sebagai kompetensi utama abad ke-21, sejajar dengan membaca, menulis, dan berhitung.
Sayangnya, kepemilikan perangkat digital tidak otomatis melahirkan manusia yang cerdas secara digital.
Hampir semua orang hari ini memiliki smartphone, tetapi tidak semuanya menjadi lebih smart.
Bahkan dalam banyak kasus, smartphone justru berubah menjadi sumber distraksi, ketergantungan, bahkan candu yang menghabiskan waktu dan perhatian manusia.
Di sinilah pendidikan memainkan peran yang sangat penting.
Pendidikan harus mampu:
- Mengajarkan teknologi sebagai alat produktivitas, bukan sekadar konsumsi.
- Membentuk etika digital, bukan hanya keterampilan teknis.
- Menjadikan manusia sebagai pengendali algoritma, bukan objek yang dikendalikan algoritma.
Jika IT adalah sebilah pisau, maka pendidikan adalah tangan yang memegangnya.
Pisau dapat digunakan untuk memasak, tetapi juga dapat digunakan untuk melukai. Semuanya bergantung pada siapa yang menggunakannya.
Peradaban Adalah Hasil Akhir
Peradaban pada akhirnya merupakan output dari cara manusia menggunakan pengetahuan dan teknologinya.
Inilah alasan mengapa Kampung IT saya posisikan sebagai laboratorium peradaban berbasis teknologi, tempat kami mencoba menghadirkan dan mengimplementasikan AI, Internet of Things (IoT), robotika, hingga energi terbarukan.
Hari ini kita dapat melihat secara langsung bagaimana teknologi memengaruhi peradaban manusia.
Ekonomi digital berkembang sangat cepat melalui e-commerce, fintech, dan kecerdasan buatan.
Budaya berubah melalui media sosial, konten viral, dan identitas digital.
Cara berpikir manusia pun ikut berubah menjadi serba cepat, instan, dan global.
Namun setiap perubahan selalu memiliki dua sisi.
Di satu sisi, teknologi menghadirkan akses ilmu pengetahuan yang hampir tanpa batas, mempercepat inovasi, dan mempermudah kolaborasi global.
Di sisi lain, teknologi juga melahirkan disinformasi, hoaks, ketergantungan digital, erosi identitas budaya, hingga meningkatnya kejahatan siber.
Peradaban ibarat sebuah taman.
IT adalah airnya.
Pendidikan adalah tukang kebunnya.
Jika air mengalir tanpa kendali, taman itu akan rusak dan banjir. Namun jika dikelola dengan baik, taman tersebut akan tumbuh subur, indah, dan berkelanjutan.
Sebuah Rangkaian Sebab dan Akibat
Hubungan antara IT, pendidikan, dan peradaban sesungguhnya sangat sederhana.
IT mempercepat perubahan.
Pendidikan mengarahkan perubahan.
Peradaban menjadi hasil akhir dari perubahan tersebut.
Kita dapat melihatnya dalam kehidupan sehari-hari.
Mahasiswa yang menggunakan AI dapat melahirkan inovasi luar biasa, tetapi juga dapat terjebak dalam plagiarisme.
Media sosial dapat menjadi sarana dakwah dan pendidikan, tetapi juga dapat menjadi alat penyebaran kebencian dan polarisasi.
Internet dapat membuka akses terhadap ilmu pengetahuan dunia, tetapi juga dapat menenggelamkan manusia dalam banjir informasi tanpa filter.
Pada akhirnya, semuanya kembali kepada kualitas pendidikan dan kebijaksanaan manusia dalam menggunakan teknologi.
Tantangan dan Arah Masa Depan
Kunci masa depan bukan lagi terletak pada siapa yang memiliki teknologi paling canggih.
Pertanyaan yang lebih penting adalah siapa yang paling bijak menggunakannya.
Tantangan utama kita hari ini meliputi:
- Kesenjangan akses digital.
- Rendahnya literasi digital.
- Krisis etika dalam pemanfaatan teknologi.
Karena itu, arah yang perlu ditempuh adalah:
- Mengintegrasikan teknologi ke dalam pendidikan secara sehat.
- Menanamkan adab, etika, dan tanggung jawab dalam penggunaan teknologi.
- Mendorong manusia menjadi kreator, bukan sekadar konsumen pasif.
Angin, Kemudi, dan Tujuan Kapal
Pada akhirnya, IT adalah angin yang mendorong kapal bergerak lebih cepat.
Pendidikan adalah kemudi yang menentukan arah pelayaran.
Sedangkan peradaban adalah tujuan tempat kapal tersebut akan berlabuh.
Tanpa kemudi, sekuat apa pun angin bertiup, kapal hanya akan tersesat dan karam.
Karena itu, pertanyaan terbesar abad ini bukan lagi:
“Seberapa canggih teknologi yang kita miliki?”
Melainkan:
“Seberapa siap manusia kita menggunakan teknologi tersebut?”
Karena masa depan tidak akan ditentukan oleh kecanggihan mesin, tetapi oleh kualitas manusia yang mengendalikannya.
Allahu a’lam bishshawab.
Penulis adalah Peneliti dan Praktisi IT untuk Pendidikan dan Peradaban












