Mengejar Lailatul Qadar di 10 Malam Terakhir Ramadan

oleh -
Mengejar malam lailatul Qard 10 malam terakhir ramadhan
Mengejar malam lailatul Qard 10 malam terakhir ramadhan

Jakarta, SonaIndonesia.com – Malam Lailatul Qadar, adalah malam yang dirindukan oleh kaum muslimin dibulan ramadhan ini. Ada yang berbondong bondong melakukan Itikaf di mesjid mesjid, ada pula yang melakukannya di rumah, mengingat masih dalam situasi Pandemi Covid-19.

Namun hal itu, tidak menyurutkan niat dari kaum muslimin untuk menjalankan i’tikaf di 10 malam terakhir Ramadan.

Seperti yang di kutip dalam beberapa ayat dan hadist yang berkaitan dengan malam lailatul qadar dan itikaf di 10 malam terakhir Ramadan, yang telah dirangkum oleh penulis

Tiada begadang yang disyari’atkan dalam setahun penuh kecuali 10 malam akhir di bulan Ramadan, dan malam inilah (malam ke 21) dimulainya. Ajak juga semua anggota keluarga, dan tingkatkan berbagai macam ibadah.

“Dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha, berkata;
كَانَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَ أَحْيَ لَيْلَهُ، وَ اَيْقَظَ أَهْلَهُ
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam itu, jika memasuki 10 hari (terakhir Ramadan), beliau mengencangkan sarungnya (lebih giat beribadah), menghidupkan malam-malamnya (begadang), dan membangunkan keluarganya”
(HR. Bukhari dan Muslim)”

Tujuannya, adalah, untuk mendapatkan kemuliaan lailatul qadar, yaitu satu malam yang kebaikan amal di dalamnya lebih baik dari kebaikan amal selama 1000 bulan di sisi Allah, seperti yang di firmankan oleh:

“Allah SWT berfirman ;
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
“Malam kemuliaan itu lebih baik dari 1000 bulan.” [QS.Al-Qadar.3]

Umat Islam diperintahkan untuk mengejar dan mendapatkan satu malam istimewa ini, seperti

“sabda Rasulullah SAW:
تَحَرُّوْا لَيْلةَ الْقَدَرِ فِي الْعَشْرِ اْلأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ.
“Carilah lailatul qadr itu pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadan.”
(HR. Bukhari dsn lainnya)

Jika mampu, jangan berspekulasi untuk mendapatkan lailatul qadar, maka lakukan i’tikaf (berdiam di masjid) 10 hari 10 malam semuanya tidak keluar (kecuali darurat, atau terdesak), sampai malam idul fitri. Itulah yang dilakukan dan dianjurkan Nabi bagi yang mampu,

“beliau bersabda;
من اعتكف معي، فليعتكف العشر الأواخر
“Siapa hendak beri’tikaf bersamaku, maka hendaknya beri’tikaf 10 akhir Ramadan”. (HR. Bukhari)

Begadang, tapi bukan begadang kebanyakan orang, akan tetapi untuk fokus beribadah, berdzikir, berdoa, baca Alquran, dan lainnya, terutama salat qiyam ramadan,

“Dari Abu Hurairah, Nabi bersabda:
مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“ Barangsiapa salat malam lailatul qadar dengan dasar iman dan berharap (pahala), maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.”
(HR. Bukhari. 1910, dan Muslim. 760)

Jika tidak mampu i’tikaf penuh 10 hari 10 malam, maka masih ada jalan mendapatkan lailatul qadar, yaitu dengan tidak tidur/begadang sejak salat isya sampai subuh setiap malam selama10 akhir Ramadan seluruhnya. (Fatwa Nur ala ad-Darb, Abdul Aziz bin Baz), dan Jika tidak mampu begadang setiap malam selama 10 akhir Ramadan, maka paling tidak begadang malam-malam ganjilnya saja,

“Rasulullah bersabda;
تحرّوا ليلة القدر في الوتر من العشر الأواخر “Kejarlah lailatul qadr itu pada malam- malam ganjil dari 10 akhir Ramadan.” (HR. Bukhari).

Apabila di malam-malam ganjilnya tidak mampu, maka jangan lewatkan begadang tujuh malam akhirnya,

“Rasulullah bersabda;
فمن كان متحرّيها فليتحرّها في السبع الأواخر
“Siapa yang mencari lailatul qadar, maka carilah di tujuh (malam) akhirnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jika tidak mampu begadang (tidak tidur semalaman) sempatkanlah di sela-sela tidur, untuk bangun di malam hari, bermunajat kepada Allah, dan perbanyak doa berikut;
Dari Aisyah semoga Allah meridhainya, ia berkata, “Wahai Rasulullah Jika aku kira malam ini adalah lailatul qadar, apa yang aku ucapkan pada malam itu?
Rasulullah menjawab, ucapkanlah;
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى
artinya: Ya Allah, Engkau Maha Memberikan Maaf dan Engkau suka memberikan maaf (menghapus kesalahan), karenanya maafkanlah aku.” (HR. Tirmidzi 3513, beliau mengatakan, hadits ini hasan sahih, dan Abu Thohir mengatakan hadits ini sahih).

Itulah beberapa rangkuman yang bisa penulis sampaikan, Semoga kita semua dimudahkan untuk begadang yang disyari’atkan ini, dan mendapat rahmat dan rida Allah SWT. (Sonaindonesia.com-Ladien)