RESIDENCE EVILS

oleh -
oleh

Yang membuat dokter Louis didukung publik adalah kesederhanaan dalam berpikir dengan akal sehat. Analogi droplet itu sangat mengena. Dia menyampaikan juga bahwa banyaknya orang sakit akibat alergi dan keracunan chemtrail, alias semprotan pestisida yang belakangan marak terlihat di udara. Entah untuk tujuan apa. Keracunan tersebut dicirikan dengan ciri-ciri yang (kalangan) medis sebut sebagai Covid. Tapi mereka yang cognitive dissonance, tentu saja denial. Dibutakan oleh saintisme semu.

Lalu yang dibantah dokter Tirta adalah justru masalah administratif; misalnya bukan anggota IDI, tidak punya surat izin praktek, dan seterusnya. Alih-alih bukan membantah pendapat keilmuannya. Tapi terus laporan ke Polda. Dalam ilmu hukum disebut ad hominem, yang dibunuh karakter dokter Louis.

Jika dianalogikan dengan anak kecil yang berantem, alih-alih bisa melawan anak yang mencubitnya, lalu nangis laporan ke bapaknya. Dan bapaknya datang menangkap anak yang mencubitnya. Betapa cengengnya.. 

Ini tidak ada hubungannya dengan berempati atau tidak berempati dengan para korban C19 lho ya. Sama sekali gak ada hubungannya. Ini tentang ketika kamu bersuara berbeda dengan suara mainstream, lalu kamu direpresi dengan ancaman senjata dan penjara.

Jika kalian lalu rame-rame bully yang berbeda dari kalian, apa namanya? Sama seperti mentalitas kerumunan zombie di film Residence Evils. Ternyata watak kekuasaan di negara ini ngga pernah benar-benar berubah. Kekuasaan berwatak antikritik, menindas dan otoriter.

Begitupun sikap kita, jika ada kesempatan menindas ya ikutan menindas dengan senang hati, selain juga senang ditindas, senang dijajah, dan senang anut grubyug; jika kebanyakan orang membenci maka ikutan membenci, jika kebanyakan memuja ya ikutan memuja, jika kebanyakan gila ya ikutan gila, karena kalau gak begitu, gak kebagian…

Kebebasan berpendapat di sini sepertinya hanya bergantung pada kemurahhatian penguasa. Kita pernah punya Orde Baru dan kita segera (atau mungkin telah) memasuki Orde Baru jilid 2 karena pada dasarnya kita sebagai rakyat merelakan hal itu terjadi. Terbiasa dijajah, biasa diplokotho, jadi ya senang ajah seperti ini.

Jangankan dokter Louis, orang kayak saya yang sok-sokan teriak soal kebebasan berpendapat kalau diancam pakek bedil atau penjara ya pasti kicep, tiarap! Saya sungguh-sungguh takut… Tapi ibarat semut kalau pun diinjak ya pasti mati, tapi setidaknya sempat menggigit meski gigitan itu tak akan punya efek mematikan, hanya gatal-gatal. (mda)

Kopi_kir sendirilah!


Penulis: Malika Dwi Ana, Pemerhati sosial, tinggal di Ngawi, Jawa Timur.